Jelajahi BDT NEWS

Sambut Dewan Energi Nasional, PTPN IV PalmCo Komitmen Optimalisasi EBT Berkelanjutan

PEKANBARU – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo berkomitmen optimalisasi pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) kepada Dewan Energi Nasional (DEN), sebagai bagian dari dukungan perusahaan terhadap penguatan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

goriau.com (Sumber) via GoRiau Berita • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 2 minggu yang lalu
3 menit baca 0

# Sambut Dewan Energi Nasional, PTPN IV PalmCo Komitmen Optimalkan EBT Berkelanjutan

Sambut Dewan Energi Nasional, PTPN IV PalmCo Komitmen Optimalisasi EBT Berkelanjutan

Penyerahan cinderamata kepada Dewan Energi Nasional.

PEKANBARU – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai bagian dari bauran energi baru dan terbarukan (EBT). Langkah ini disampaikan kepada Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap penguatan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kunjungan tim DEN yang dipimpin Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Bidang Teknologi DEN, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., ke PTPN IV Regional III di Pekanbaru, Riau.

Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso mengatakan, PTPN IV saat ini menjadi salah satu pionir dalam pemanfaatan produk samping dan limbah sawit. Pemanfaatan itu antara lain dilakukan dengan mengolah palm oil mill effluent (POME) menjadi biogas serta mengembangkan potensi tandan kosong sawit sebagai sumber energi alternatif.

Di wilayah operasional Riau, Regional III memiliki enam instalasi pemanfaatan biogas. Fasilitas tersebut terdiri atas dua Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di PKS Tandun (TAN) dan Terantam (TER), serta empat instalasi biogas co-firing di PKS Sei Pagar (SPA), Lubuk Dalam (LDA), Sei Tapung (STA), dan Sei Rokan (SRO).

“Kami berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan limbah yang kami hasilkan. Potensinya cukup besar dan kami terus berupaya agar limbah ini dapat memberikan nilai tambah,” kata Bambang.

Menurut dia, pengembangan EBT berbasis limbah sawit merupakan bagian penting dari upaya PalmCo membangun operasional perkebunan dan industri sawit yang lebih efisien serta berkelanjutan.

Bambang menjelaskan, PalmCo telah memetakan berbagai potensi produk samping industri sawit. Cangkang dan serat sawit, misalnya, telah dimanfaatkan sebagai biomassa untuk mendukung operasional pabrik.

Sementara itu, tandan kosong sawit atau tankos tidak hanya dapat digunakan sebagai mulsa, kompos, dan bahan serat, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi bioetanol dan syngas. Namun, pengembangan tersebut masih memerlukan pengujian keandalan teknologi.

Adapun POME berpotensi dikonversi menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan melalui co-firing dan PLTBg, maupun dikembangkan menjadi compressed biomethane gas (CBG).

Di Regional III, POME diproses menggunakan teknologi penangkapan metana, seperti covered lagoon dan continuous stirred tank reactor (CSTR). Biogas yang dihasilkan dapat digunakan untuk membangkitkan listrik melalui gas engine atau sebagai bahan bakar pendamping dalam proses pengolahan di pabrik kelapa sawit.

Unggul Priyanto mengatakan, pengembangan energi berbasis sumber daya domestik semakin penting seiring dengan langkah pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional.

Ia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan DEN untuk mempersiapkan pengembangan E50, yaitu perluasan penggunaan etanol sebagai campuran bensin. Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam Sidang Paripurna DEN pada 17 September 2026, setelah pemerintah menjalankan program mandatori biodiesel B50.

Menurut Unggul, salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah penyusunan peta jalan ketersediaan bahan baku etanol, antara lain dari tebu, singkong, jagung, dan sorgum.

Ia menambahkan, peluang pengembangan bahan baku tidak terbatas pada komoditas tersebut. Limbah biomassa seperti tandan kosong kelapa sawit juga dinilai berpotensi dikaji lebih lanjut sebagai bahan baku energi, meski membutuhkan penguasaan teknologi yang relatif maju.

Unggul menyebut terdapat tiga jalur yang menjadi perhatian dalam percepatan pengembangan bahan bakar domestik, yakni E50, biohidrokarbon atau bensin sawit, serta coal to liquid (CTL). Untuk biohidrokarbon, bahan bakar seperti green gasoline, sustainable aviation fuel (SAF), dan HVO dapat dikembangkan dari CPO maupun produk turunannya melalui proses hydrodeoxygenation dan upgrading.

“Ke depan, tantangannya bagaimana sumber daya yang kita miliki dapat benar-benar dikonversi menjadi sumber energi domestik. Teknologinya memang semakin maju, tetapi peluangnya juga sangat besar,” ujar Unggul.

Pengembangan tersebut, lanjut dia, penting bukan hanya untuk meningkatkan porsi energi terbarukan, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK