Jelajahi BDT NEWS

Saling puja-puji Trump-Xi, tapi rivalitas AS-China tetap membayangi

Kedekatan Trump dan Xi menghangatkan pertemuan di Washington. Namun, menurut analis, stabilitas jangka panjang hubungan AS-China bergantung pada kemampuan keduanya mengelola perbedaan.

cna.id (Sumber) via CNA Dunia • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 minggu yang lalu
8 menit baca 0

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih

Presiden AS Donald Trump memegang map di samping Presiden China Xi Jinping sebelum Xi berpidato dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih, Washington, AS, 24 September 2026. (Foto: Reuters/Evelyn Hockstein)

Sambutan meriah di bandara, atraksi pesawat militer, dan puja-puji mewarnai kunjungan Presiden China Xi Jinping yang dijamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, D.C. Namun, di balik kemeriahan tersebut, rivalitas kedua negara masih membayangi hubungan AS-China.

Sambutan mewah dan pernyataan persahabatan yang berulang kali disampaikan kedua pemimpin menunjukkan besarnya upaya untuk menjaga hubungan bilateral tetap stabil.

"Pertemuan yang sangat produktif dengan Presiden China Xi," tulis Trump di Truth Social pada Jumat (25/9). Ia menambahkan bahwa "hal-hal luar biasa akan terjadi", tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Namun, pertemuan itu hanya menghasilkan sedikit terobosan. Gencatan perang dagang diperpanjang selama dua bulan, lebih singkat dari harapan sebagian pengamat, sementara perselisihan yang lebih mendasar belum terselesaikan.

Menurut analis, kondisi tersebut menunjukkan arah hubungan kedua negara. Washington dan Beijing tampaknya tidak berfokus pada penyelesaian seluruh perbedaan yang memicu persaingan, melainkan mencari cara untuk mengelolanya.

"Yang terlihat dari pertemuan ini sejauh ini adalah kedua pemimpin berkomitmen mempertahankan hubungan baik yang telah mereka bangun," kata William Yang, analis senior Asia Timur Laut di International Crisis Group, kepada CNA.

Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington

Xi melakukan kunjungan kenegaraan balasan ke Washington, empat bulan setelah Presiden AS Donald Trump berkunjung ke Beijing. (Foto: Reuters/Kylie Cooper)

Xi melakukan kunjungan kenegaraan balasan ke Washington, empat bulan setelah Trump bertandang ke Beijing.

Dalam kunjungannya, Xi kembali menegaskan "hubungan konstruktif dengan stabilitas strategis" yang menurut Beijing disepakati kedua pemimpin saat Trump berkunjung ke China pada Mei lalu. Ia juga menyerukan agar persaingan tetap terkendali dan perbedaan dikelola.

Trump menunjukkan sikap yang lebih hangat dan personal. Ia berulang kali menekankan kedekatannya dengan Xi dan menyebut persahabatan mereka "sungguh luar biasa".

"Keputusan yang kita ambil hari ini dapat mendorong perdamaian dan kemakmuran selama puluhan tahun mendatang," kata Trump di Gedung Putih pada Kamis (24/9).

Dalam jamuan kenegaraan malam itu, Xi mengatakan keduanya telah melakukan "pembicaraan yang terbuka dan mendalam" serta "mencapai kesepahaman dalam banyak isu".

PEMIMPINNYA AKRAB, NEGARANYA TETAP BERSAING

AS dan China sepakat memperpanjang gencatan perang dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2027, kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

"AS dan China hanya menyepakati perpanjangan dua bulan. Ini menunjukkan mereka kemungkinan belum menyelesaikan perselisihan soal pembatasan ekspor dan isu perdagangan lainnya," kata Yang.

Sean King, wakil presiden senior perusahaan konsultan Park Strategies di New York, menilai hasil tersebut secara lebih skeptis.

"Setelah sekian lama dan berbagai persiapan, perpanjangan gencatan hanya dua bulan terasa seperti hasil ekonomi yang mengecewakan," katanya kepada CNA.

Bonnie Glaser, direktur pelaksana Indo-Pacific Program di German Marshall Fund, menilai Washington menginginkan perpanjangan gencatan perang dagang yang lebih lama, sedangkan Beijing kemungkinan lebih menginginkan kepastian mengenai tarif ke depan.

Meski singkat, perpanjangan tersebut memberi Washington "sedikit daya tawar terhadap Beijing", terutama terkait pasokan logam tanah jarang dan magnet untuk perusahaan-perusahaan AS, katanya.

Namun, menurut sejumlah analis, kedua negara juga berupaya agar stabilitas hubungan tidak terlalu bergantung pada Trump dan Xi.

"Diplomasi personal kedua pemimpin memang penting, tetapi komunikasi antarpemerintah, dialog militer, dan mekanisme penanganan krisis menunjukkan upaya membangun stabilitas yang lebih kokoh dan tidak bergantung pada keduanya," kata Wang Zichen, wakil sekretaris jenderal Center for China and Globalization, lembaga kajian yang berbasis di Beijing.

Hou Yichao, peneliti ekonomi politik China dan mantan asisten peneliti di S Rajaratnam School of International Studies, menyampaikan pandangan serupa.

"Kedekatan kedua pemimpin menjadi semacam jaminan atau pelumas penting bagi hubungan ini, tetapi sifatnya tidak institusional," katanya.

Xi menyerukan komunikasi yang lebih rutin antara lembaga pemerintah dan militer kedua negara, mekanisme komunikasi krisis yang lebih kuat, serta kelanjutan dialog mengenai kecerdasan buatan (AI).

Ia juga mengatakan AS dan China harus bekerja sama dengan tulus dan sama-sama bertanggung jawab memastikan AI tetap berada di bawah kendali manusia serta digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berbincang di Gedung Putih

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berbincang di dekat helikopter Marine One di Gedung Putih, Washington, AS, 24 September 2026. (Foto: Reuters/Evan Vucci)

Menurut Wang, AI menjadi salah satu contoh paling jelas dari upaya tersebut.

"Beijing tidak ingin hubungan kedua negara soal AI hanya dilihat dari sisi pembatasan, keamanan, atau pencegahan skenario terburuk, tetapi juga dari apa yang bisa dicapai bersama secara konstruktif," katanya.

Kesediaan membahas AI dan keamanan nasional juga menjadi "sinyal positif", kata Su Yue, ekonom utama China di Economist Enterprise, divisi riset The Economist Group.

"Ini menunjukkan kedua pihak bersedia bekerja sama di bidang tertentu meski tetap bersaing secara lebih luas," katanya kepada CNA.

David Wroe, peneliti senior dan kepala AI and Security Program di Australian Strategic Policy Institute, menyebut pembicaraan tersebut "cukup menggembirakan".

"Namun, kita tetap perlu berhati-hati," kata Wroe. Ia menambahkan bahwa China berkepentingan agar AS "memperlambat langkahnya".

Hou juga menyoroti perubahan cara Beijing membicarakan persaingan kedua negara.

"Bahkan hingga tahun lalu, Beijing masih enggan menyebut adanya persaingan AS-China karena khawatir penyebutan itu justru membuat persaingan benar-benar terjadi," katanya.

Namun, menurut Hou, pejabat China kini semakin terbuka mengakui adanya persaingan, sembari menekankan bahwa persaingan tersebut harus tetap terkendali dan tidak membuat satu pihak menang dengan mengorbankan pihak lain.

Yang dari International Crisis Group mengatakan Beijing menilai semakin seringnya pertemuan dengan Trump menguntungkan China. Pertemuan rutin membantu menjaga hubungan kedua pemimpin tetap baik sekaligus memberi Xi lebih banyak kesempatan untuk menegaskan posisi negaranya.

"Prioritas China dalam hubungan dengan AS saat ini adalah menjaga komunikasi kedua pemimpin tetap konsisten dan memanfaatkan stabilitas hubungan untuk memperkuat posisi serta kemampuan di bidang-bidang penting," katanya, terutama terkait upaya China meningkatkan kemandirian dalam semikonduktor canggih.

UJIAN TAIWAN

Taiwan tetap menjadi ujian yang lebih berat bagi stabilitas hubungan AS-China.

Dalam pernyataan yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri China, Xi meminta Washington "mempertahankan posisi yang tepat dengan menentang 'kemerdekaan Taiwan'" dan berhati-hati menyikapi isu tersebut. Menurutnya, langkah itu akan membantu membangun "fondasi yang kokoh" bagi kerja sama strategis AS-China secara lebih luas.

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencapai reunifikasi.

Yang dari International Crisis Group mengatakan pernyataan Xi penting karena secara langsung mengaitkan sikap Washington terhadap Taiwan dengan stabilitas hubungan kedua negara.

"Pernyataan China menunjukkan Beijing mengambil inisiatif untuk menegaskan posisinya soal Taiwan dan menyampaikan secara jelas sikap yang mereka harapkan dari AS," katanya.

Menurut Yang, Beijing juga tampaknya berupaya membentuk kerangka yang dapat memengaruhi hubungan AS-Taiwan ke depan. Taipei kemungkinan akan mencermati bagaimana Washington menangani rencana paket penjualan senjata senilai US$14 miliar atau sekitar Rp251 triliun, serta bagaimana Trump menjelaskan kebijakan AS terhadap Taiwan.

James Chen, asisten profesor diplomasi dan hubungan internasional di Tamkang University, Taipei, mengatakan Trump sejauh ini belum menanggapi langsung tuntutan Xi soal Taiwan.

"Trump tidak ingin Taipei menjadi penghalang untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas dan menyeluruh dengan Beijing," kata Chen.

Namun, menurutnya, Trump juga "belum menunjukkan niat mengorbankan Taiwan demi keuntungan strategis yang lebih besar".

King dari Park Strategies juga mengatakan "belum ada tanda bahwa Trump menyetujui" permintaan Xi agar AS menentang kemerdekaan Taiwan.

Menurut analis, penanganan isu Taiwan akan menjadi ujian awal sejauh mana stabilitas AS-China dapat bertahan, sekaligus apakah stabilitas itu bisa membuka ruang kerja sama dalam menghadapi tantangan geopolitik yang lebih luas.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dalam jamuan kenegaraan

Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berbincang dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih, Washington, AS, 24 September 2026. (Foto: Reuters/Evelyn Hockstein)

MENGELOLA PERSAINGAN, BISAKAH BERLANJUT?

Trump dan Xi bertukar pandangan soal Timur Tengah, Ukraina, dan Semenanjung Korea dalam pertemuan di Gedung Putih. Namun, menurut keterangan resmi pemerintah China, belum ada inisiatif bersama yang signifikan terkait isu-isu tersebut.

Kedua pemimpin juga sepakat saling mendukung saat China menjadi tuan rumah KTT APEC di Shenzhen pada November dan AS menjadi tuan rumah KTT G20 pada Desember, menurut keterangan tersebut.

Namun, Yang dari International Crisis Group mengatakan waktu pertemuan yang terbatas dan banyaknya persoalan AS-China membuat kedua pemimpin hanya memiliki sedikit ruang untuk membahas isu geopolitik secara mendalam.

"Pertemuan ini belum cukup membahas berbagai isu geopolitik yang penting bagi hubungan AS-China," katanya. Menurut Yang, isu tersebut mungkin dapat dibahas jika Trump dan Xi kembali bertemu di sela-sela KTT internasional mendatang.

Ia juga meragukan kedekatan kedua pemimpin saja cukup untuk menghasilkan terobosan dalam konflik seperti di Timur Tengah.

"Beijing tidak melihat alasan kuat untuk ikut terlibat dalam gejolak yang sedang berlangsung," kata Yang.

Menurutnya, perhatian AS yang terus tersita di Timur Tengah juga dapat memberi China ruang lebih besar di kawasan sekitarnya.

Yang mengatakan para pembuat kebijakan China mungkin melihat fokus Washington di Timur Tengah sebagai kesempatan "untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan".

Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih

Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Keuangan Scott Bessent menghadiri pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Oval Office, Gedung Putih, Washington, AS, 24 September 2026. (Foto: Reuters/Evan Vucci)

Chen dari Tamkang University memiliki pandangan yang lebih optimistis.

Pertemuan bulan ini "semakin memperkuat kemampuan kedua pemimpin untuk bersama-sama mengelola bukan hanya isu Taiwan, tetapi juga berbagai konflik global", kata Chen.

Menurut Wang dari Center for China and Globalization, hubungan AS-China yang berfokus pada pengelolaan persaingan tetap dapat membawa manfaat bagi negara lain.

"Ini mengurangi tekanan terhadap negara lain untuk memilih pihak," katanya. Hubungan yang lebih stabil juga dapat memberi ruang diplomatik dan ekonomi yang lebih besar bagi perusahaan dan pemerintah yang berhubungan dengan kedua negara.

Namun, Glaser dari German Marshall Fund mengingatkan agar hubungan yang lebih mulus tidak dianggap sebagai tanda meredanya persaingan secara mendasar.

Ia menyoroti persaingan yang masih berlangsung dalam teknologi, tata kelola global, dan tatanan internasional.

"Jangan lupa, ini sebenarnya bukan hubungan yang hangat, meskipun kata-kata yang terdengar sangat bersahabat," katanya.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK