Jelajahi BDT NEWS

Lagu AI mulai jebol 'chart' Korea, industri musiknya malah belum siap

Di Korea, muncul usulan agar bagaimana proses di balik pembuatan lagu oleh AI jauh lebih transparan.

cna.id (Sumber) via CNA Indonesia Politik • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 2 minggu yang lalu
6 menit baca 0

Lagu AI Mulai Menembus Chart Korea Selatan, Industri Musik Belum Siap

Musik buatan kecerdasan buatan (AI) mulai menembus tangga lagu Korea Selatan, salah satu pasar musik paling kompetitif di dunia. Lagu-lagu tersebut bahkan bersaing dengan karya dari musisi ternama, meski suara penyanyinya bukan dihasilkan manusia.

Seperti dilaporkan BeritaDuniaTerbaru.com, Jumat (25/9), salah satu proyek yang mencuri perhatian adalah meomuru. Proyek musik ini menggunakan vokal yang dibuat melalui aplikasi AI generatif Suno.

Lagu meomuru berjudul The Adult I Dreamed Of masuk dalam Melon Top 100 dan sempat menempati posisi ke-62. Lagu tersebut bersaing dengan karya dari nama-nama besar seperti BTS, Lim Young Woong, dan DAY6.

Meomuru bukan satu-satunya tanda bahwa musik AI mulai diterima pendengar Korea. Sebelumnya, kanal YouTube Joseon HipHop mencetak sejarah melalui lagu Forest of the Heart, yang menjadi lagu buatan AI pertama yang masuk Melon Top 100 pada 6 September 2026.

Lagu yang dirilis pada Mei itu mencapai posisi ke-89 di Top 100 dan posisi ke-99 di daily chart Melon, sebelum akhirnya keluar dari kedua tangga lagu tersebut.

Menariknya, pendengar musik AI bukan hanya berasal dari Gen Z yang selama ini dianggap paling akrab dengan teknologi baru. The Korea Herald melaporkan, data Melon menunjukkan 38 persen pendengar Joseon HipHop berasal dari kelompok usia 40-an, disusul kelompok usia 30-an sebesar 33 persen. Pendengar berusia 20-an hanya mencapai 11 persen.

Daya tarik musik AI tersebut kemungkinan justru berasal dari hal yang sangat manusiawi, yakni lirik yang menawarkan penghiburan.

“Saya rasa orang-orang menikmati liriknya karena, alih-alih memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, liriknya mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat setelah semua yang mereka lalui,” kata kreator Joseon HipHop kepada media lokal.

Ia juga mengaku senang karena berhasil menembus kisaran peringkat 100 hingga 110 di Melon, yang disebut sebagai salah satu bagian tersulit untuk dilewati.

Formula meomuru juga berada di wilayah emosional yang serupa. Nama tersebut terinspirasi dari kata kerja Korea “meomuru-da”, yang bermakna “tetap tinggal” dan “tetap hidup”. Musik meomuru mengusung nuansa indie dan modern rock, serta dirancang untuk menemani pendengar setelah menjalani hari yang melelahkan melalui lagu-lagu yang menawarkan kenyamanan dan sedikit kebahagiaan.

Ilustrasi kecerdasan buatan dan musik
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dan musik. (Foto: iStock)

Masih Ada Unsur Manusia

Label “musik AI” tidak sesederhana meminta chatbot membuat lagu lalu mengunggah hasilnya ke Spotify. Joseon HipHop menulis sendiri lirik Forest of the Heart, sedangkan melodi dan vokalnya dibuat menggunakan Suno.

Dalam kasus meomuru, kreatornya juga mengklaim manusia masih terlibat dalam penulisan lagu, penyusunan konsep, aransemen, dan produksi musik.

Kreator meomuru memosisikan AI bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai instrumen modern dan mitra kreatif. Klaim tersebut menunjukkan munculnya wilayah abu-abu baru dalam industri musik. Jika manusia menciptakan konsep dan mengarahkan proses, tetapi mesin menghasilkan sebagian komposisi atau suara yang didengar publik, apakah hasil akhirnya masih dapat disebut sebagai karya manusia?

Pertanyaan itu semakin kompleks karena perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat daripada pembentukan aturan. Di Korea Selatan, pemerintah sejak 2023 berpandangan bahwa keluaran AI tanpa kontribusi kreatif manusia tidak dapat memperoleh perlindungan hak cipta.

Namun, berdasarkan laporan The Korea Times, belum ada standar konkret mengenai seberapa besar campur tangan manusia yang dibutuhkan agar sebuah lagu memenuhi syarat memperoleh royalti melalui Korea Music Copyright Association (KOMCA).

Joseon HipHop merasakan langsung konsekuensi dari ketidakjelasan tersebut. Meski lagunya berhasil masuk Melon, kreatornya tidak menerima royalti hak cipta dari karya-karya AI tersebut. Pendapatan yang diterima berasal dari neighboring rights atau hak terkait sebagai produser ketika lagu digunakan atau diputar.

KOMCA sebenarnya sempat mencoba membuat aturan baru. Pada 3 Agustus, organisasi tersebut mengizinkan musik berbantuan AI didaftarkan untuk pengelolaan hak selama manusia berkontribusi pada lirik, komposisi, aransemen, atau aspek lain dari karya.

Lagu yang sepenuhnya dibuat melalui prompt tidak termasuk dalam ketentuan itu. Namun, aturan tersebut hanya bertahan selama 22 hari. Setelah menuai keberatan dan pemerintah meminta diskusi publik yang lebih luas, KOMCA mencabutnya pada 25 Agustus.

Persoalannya bukan hanya menentukan pencipta sebuah lagu. Industri juga perlu mengetahui apakah AI digunakan sejak awal proses produksi. Saat ini, platform streaming musik di Korea belum memiliki ketentuan yang mewajibkan penggunaan AI dicantumkan dalam sebuah karya.

Dengan demikian, pendengar dapat menikmati sebuah lagu tanpa mengetahui bahwa suara atau musik di dalamnya dibuat dengan bantuan AI, kecuali kreatornya mengungkapkan hal tersebut.

Lagu AI Makin Sulit Dikenali

KOMCA bersama lima kelompok industri musik lainnya kini berada dalam tahap akhir memilih penyedia teknologi pendeteksi musik AI. Namun, perangkat semacam itu dilaporkan masih kesulitan mendeteksi lagu ketika AI hanya digunakan pada sebagian proses pembuatannya.

Lee Jong-pil, CEO startup Korea Neutune yang mengembangkan teknologi atribusi dan pelacakan hak untuk musik AI, menilai derasnya lagu buatan AI telah “memperdalam distorsi” dalam sistem distribusi musik. Menurut dia, industri tidak cukup hanya bereaksi setiap kali muncul persoalan baru.

“Daripada merespons persoalan jangka pendek satu per satu, kuncinya adalah merancang sistem secara proaktif dengan mempertimbangkan seluruh ekosistem musik AI yang akan datang,” katanya kepada The Korea Times, Senin (21/9).

Perdebatan serupa berlangsung di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Copyright Office menyimpulkan pada Januari 2025 bahwa prompt saja tidak cukup untuk mendapatkan perlindungan hak cipta.

Organisasi pengelola hak seperti BMI dan ASCAP di Amerika Serikat serta SOCAN di Kanada menerima karya berbantuan AI jika kontribusi manusia, seperti lirik atau melodi, dapat diidentifikasi. Namun, karya yang sepenuhnya dihasilkan melalui prompt tidak termasuk. Pendekatan serupa diterapkan GEMA di Jerman dan BumaStemra di Belanda.

Perkara AI dan musik juga meluas ke materi yang digunakan untuk melatih model. Pengadilan Munich pada 31 Juli memutuskan dalam putusan tingkat pertama bahwa Suno melanggar hak cipta dengan menggunakan karya yang diwakili GEMA untuk melatih model dan mereproduksinya dalam hasil AI. Putusan tersebut belum final.

Ilustrasi kecerdasan buatan dan musik
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dan musik. (Foto: iStock)

Di sisi lain, perusahaan rekaman besar mulai bergerak ke arah lisensi. Suno mengatakan model v6 yang diluncurkan pada 9 September dikembangkan menggunakan materi berlisensi dari Warner Music Group, BMG, dan distributor Believe. Sementara itu, Universal Music Group dan Sony Music Entertainment masih menggugat perusahaan tersebut.

Di Korea Selatan, salah satu usulan yang muncul adalah meningkatkan transparansi proses pembuatan lagu AI. Dalam diskusi publik di Majelis Nasional pada 22 September, profesor budaya dan seni Seokyeong University, Park Tae-yong, mengatakan aturan yang ada sulit diterapkan karena “tidak ada cara standar untuk mengungkapkan keterlibatan AI”.

Ia mengusulkan agar riwayat prompt, catatan revisi, dan stem files atau trek audio terpisah menjadi bagian dari informasi standar yang wajib diungkapkan. Informasi tersebut kemudian dapat dicocokkan dengan teknologi deteksi.

Keberhasilan meomuru dan Joseon HipHop menunjukkan bahwa lagu AI tidak lagi sekadar eksperimen teknologi di sudut internet. Lagu-lagu tersebut telah dapat menjadi viral, menemukan pendengarnya sendiri, dan bersanding dengan karya musisi manusia di chart arus utama.

Di Korea Selatan, persoalannya kini bukan lagi apakah musik AI akan masuk ke industri musik arus utama, melainkan apakah aturan mengenai transparansi, hak cipta, dan royalti mampu mengejar perkembangan teknologi.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK