Jelajahi BDT NEWS

Jateng Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional

Capaian ini menjadi momentum bagi Pemprov Jateng untuk memperluas layanan wisata ramah muslim, serta meningkatkan daya saing pariwisata daerah.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Nasional • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 2 jam yang lalu
3 menit baca 0

Jawa Tengah (Jateng) menduduki peringkat kedua sebagai destinasi pariwisata ramah muslim terbaik secara nasional dalam ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. Pencapaian ini mengalami peningkatan dari posisi kelima pada tahun sebelumnya.

Penghargaan diserahkan langsung kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upacara yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima penghargaan tersebut atas nama Gubernur Ahmad Luthfi. Dalam kesempatan itu, Gus Yasin --sapaan Taj Yasin Maimoen-- menyampaikan apresiasinya terhadap capaian tersebut dan menyebutnya sebagai hadiah bagi seluruh masyarakat Jawa Tengah.

"Alhamdulillah, kali ini kita ada di peringkat kedua. Ini hadiah buat kita semua, buat masyarakat Jawa Tengah yang menyongsong pada tahun 2027, yaitu pariwisata berkelanjutan, ramah muslim, dan ekonomi syariah," tutur Gus Yasin.

Ia menjelaskan, peningkatan peringkat menjadi landasan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperluas jangkauan layanan wisata ramah muslim, sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah secara keseluruhan.

Menurut Gus Yasin, capaian ini sejalan dengan peta jalan pengembangan wisata ramah muslim yang tengah disiapkan oleh pemerintah provinsi. Penguatan fasilitas dan layanan yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan muslim menjadi fokus utama dalam peta jalan tersebut.

Pengembangan itu mencakup sektor perhotelan, pusat kuliner, hingga fasilitas pendukung di berbagai destinasi wisata. Pemerintah provinsi bertujuan memastikan layanan ramah muslim tidak lagi terkonsentrasi di wilayah tertentu, melainkan menjangkau seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

"Kita berkolaborasi dengan BI, dengan stakeholder yang ada untuk menciptakan destinasi yang ramah muslim," kata Gus Yasin.

Sebagai salah satu contoh konkret, fasilitas hotel dengan kolam renang terpisah untuk pria dan wanita telah tersedia di Kabupaten Karanganyar sejak 2024. Gus Yasin menilai praktik tersebut dapat dijadikan referensi untuk diterapkan di daerah lain di Jawa Tengah.

"Ini perlu kita genjot, kita promosikan supaya nanti bisa berkembang di daerah-daerah yang lain, bukan hanya di Karanganyar saja, akan tetapi berkembang ke seluruh Jawa Tengah," tutur Gus Yasin.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana turut menyampaikan kabar positif mengenai posisi Indonesia secara global. Indonesia menempatkan diri di peringkat kedua destinasi ramah muslim dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026.

Indonesia meraih skor 79 dalam indeks tersebut, yang merupakan skor tertinggi sepanjang keikutsertaan negara dalam pengukuran global tersebut.

"Pencapaian ini semakin menegaskan kesiapan dan daya saing Indonesia," kata Widiyanti.

Widiyanti menilai, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan pariwisata ramah muslim. Kebutuhan wisatawan terhadap kuliner halal, fasilitas ibadah, serta layanan yang sesuai dengan kebutuhan muslim telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari di Tanah Air.

Kendati demikian, potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan dan kemudahan akses informasi agar wisatawan muslim dunia memilih Indonesia sebagai destinasi perjalanan mereka.

"Wisata muslim bukanlah sebuah niche market. Ini adalah salah satu pasar pariwisata global yang sangat menjanjikan," katanya.

Widiyanti memproyeksikan, kunjungan internasional wisatawan muslim dunia pada 2030 diproyeksikan mencapai 262 juta kunjungan dengan estimasi pengeluaran tahunan sekitar 310 miliar dolar AS. Ia menekankan pentingnya mengimbangi potensi tersebut dengan upaya meningkatkan kunjungan sekaligus pengeluaran wisatawan.

Ajang IMTI menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi di tingkat daerah. Widiyanti menambahkan, indeks tersebut mengukur kesiapan provinsi dalam menyediakan layanan dan pengalaman wisata ramah muslim, dengan mengadaptasi kerangka penilaian Global Muslim Travel Index.

Kerangka penilaian itu mencakup empat aspek utama, yakni akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

"IMTI 2026 diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi wisata ramah muslim," kata Widiyanti.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK