New York University (NYU) berpeluang menjadi salah satu kampus tujuan penerima beasiswa LPDP Jakarta yang ditargetkan mulai dibuka pada 2027. Peluang kerja sama itu dibahas Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama jajaran NYU di Amerika Serikat.
Pertemuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan universitas yang disebut berada di peringkat ke-31 di Amerika Serikat tersebut ditampilkan dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @pramonoanungw pada Kamis (24/9).
“Tahun depan, Jakarta akan memiliki dana abadi untuk beasiswa. Sekitar 75 mahasiswa dengan latar belakang kelas menengah. Tentu saja, New York University akan menjadi salah satu target program ini,” ujar Pramono.
Dalam pertemuan tersebut, NYU diwakili sejumlah pejabat kampus, antara lain Dean of the NYU School of Professional Studies (NYU SPS) Angie Kamath dan Associate Dean of Enrollment & Student Success John McLoughlin.
Kamath menyambut peluang kolaborasi melalui program beasiswa tersebut. Ia mengatakan, NYU dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki sejumlah kepentingan yang sama.
“Hari ini kami sangat antusias untuk memperdalam kerja sama melalui program beasiswa Anda. Kita memiliki banyak kepentingan yang sama,” ujar Kamath.
Menurut Kamath, sekitar 2.000 alumni NYU berasal dari Indonesia.
McLoughlin juga menyambut rencana tersebut, khususnya terkait upaya memperluas akses bagi mahasiswa.
“Kami sangat antusias dengan beasiswa ini karena komitmen kami adalah terkait akses dan menciptakan lebih banyak jalur bagi para mahasiswa. Kami menantikan kerja sama dengan Anda dan Pemerintah Jakarta,” jelas McLoughlin.
Selain membahas program beasiswa, Pemprov DKI Jakarta dan NYU menandatangani Letter of Intent untuk membuka kolaborasi di bidang pendidikan, olahraga, dan lingkungan.
Program LPDP Jakarta disiapkan untuk membiayai warga berprestasi yang ingin melanjutkan pendidikan jenjang S2 dan S3 di luar negeri. Pendaftaran program tersebut ditargetkan dibuka pada September 2027.
Skema beasiswa mencakup biaya pendidikan penuh, biaya hidup, tunjangan buku, asuransi kesehatan, visa, serta kebutuhan penelitian.
Pembiayaan diberikan untuk masa studi maksimal dua tahun pada jenjang S2 dan lima tahun untuk S3.
Saat ini, terdapat 11 negara yang masuk dalam pembahasan sebagai tujuan studi, yakni Amerika Serikat, Australia, Belanda, China, Inggris, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Prancis, Singapura, dan Rusia.
Program studi yang dapat diambil nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan Jakarta.