Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com —
Kapan terakhir kali kamu mengundang teman ke rumah untuk sekadar mengobrol atau makan bersama? Di tengah kesibukan dan banyaknya pilihan tempat nongkrong, bertemu di kafe atau restoran mungkin terasa lebih praktis dibandingkan harus menyiapkan rumah untuk menerima tamu.
Berdasarkan data The Guardian, proporsi orang di Amerika Serikat yang rutin menjamu teman atau keluarga di rumah turun drastis dari 42 persen pada 1975 menjadi 12 persen pada 2026. Sementara itu, jajak pendapat terhadap 2.000 orang dewasa di Inggris pada 2025 menunjukkan lebih dari empat dari 10 orang menghindari menjamu tamu karena enggan repot membersihkan rumah afterward.
Lantas, apa yang membuat orang kini semakin enggan mengundang teman ke rumah?
Tekanan Rumah Rapi dan Makanan Sempurna
Salah satu alasan utama adalah tekanan untuk membuat rumah terlihat rapi dan nyaman. Sebelum teman datang, ada saja yang perlu dibereskan, mulai dari ruang tamu hingga kamar mandi. Tekanan ini semakin besar ketika media sosial dipenuhi konten rumah estetik, meja makan cantik, dan hidangan yang tampak seperti sajian restoran.
Psikoterapis Kamalyn Kaur menjelaskan bahwa media sosial dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis tentang kondisi rumah. Ketika seseorang terbiasa melihat rumah orang lain yang tampak sempurna, ia bisa merasa rumahnya sendiri belum cukup baik untuk menerima tamu.
Standar menjamu tamu pun kini tak lagi sebatas menyediakan makanan. Menata meja, memilih dekorasi, hingga menyiapkan minuman dianggap sebagai bagian dari acara yang harus dipersiapkan dengan matang.
Koki asal Sydney, Therese Lum, menilai bahwa ekspektasi tersebut ditambah ukuran apartemen yang terbatas dan jadwal padat membuat makan bersama di restoran terasa jauh lebih mudah.
Waktu dan Biaya yang Terbuang
Menyiapkan rumah untuk menerima tamu membutuhkan tenaga ekstra, terutama bagi mereka yang bekerja penuh waktu atau memiliki anak. Memasak, membersihkan rumah, dan memastikan semua orang merasa nyaman bisa menjadi pekerjaan tambahan setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
Menurut laporan Retail Times berdasarkan data platform reservasi restoran TheFork, biaya menyiapkan makan malam tiga hidangan di rumah untuk enam orang bisa mencapai lebih dari 2,7 kali rata-rata biaya makan per orang di restoran.
Menyiapkan makanan juga bisa lebih rumit ketika tamu memiliki alergi, intoleransi makanan, atau preferensi diet tertentu. Tuan rumah perlu menyesuaikan menu agar semua orang bisa menikmati hidangan.
Karena itu, bertemu di restoran terasa lebih praktis. Setiap orang bisa memesan makanan sesuai keinginan tanpa harus membebankan seluruh persiapan kepada satu orang.
Spontanitas Semakin Berkurang
Cara orang bersosialisasi juga mengalami perubahan. Dahulu, mengunjungi rumah teman atau kerabat bisa dilakukan secara spontan, bahkan hanya untuk minum teh selama setengah jam.
Kaur mengenang kebiasaan orang-orang yang dahulu bisa mampir ke rumah orang lain tanpa banyak persiapan. Seiring waktu, kunjungan semakin sering direncanakan terlebih dahulu. Meski kebiasaan ini menunjukkan penghormatan terhadap waktu dan ruang pribadi, pertemuan pun membutuhkan lebih banyak koordinasi.
Antropolog Robin Dunbar menyoroti jarak sebagai salah satu faktor yang memengaruhi frekuensi pertemuan. Menurut dia, ketika kota semakin besar dan jaringan pertemanan tersebar, orang cenderung lebih jarang bertemu jika harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit.
Kesibukan keluarga turut membatasi waktu luang. Dunbar menilai berbagai kegiatan anak, mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah hingga mengikuti aktivitas ekstrakurikuler, membuat orang tua perlu menyediakan lebih banyak waktu untuk mendampingi dan mengantar anak. Alhasil, waktu untuk menerima tamu atau sekadar berkunjung menjadi semakin terbatas.
Rumah sebagai Tempat Beristirahat
Sejak pandemi Covid-19, sebagian orang terbiasa menggunakan rumah sebagai tempat bekerja sekaligus beristirahat. Kaur menjelaskan bahwa orang membutuhkan perubahan suasana agar benar-benar merasa sedang beristirahat. Jika rumah sudah menjadi tempat bekerja, menerima tamu di sana bisa terasa seperti memperpanjang aktivitas sehari-hari.
Rumah pun semakin dipandang sebagai ruang pribadi untuk melepas penat. Sebagian orang mungkin lebih memilih mengenakan pakaian santai, menonton serial favorit, atau tidur lebih awal tanpa perlu memikirkan kebutuhan orang lain.
Selain itu, hiburan di rumah semakin mudah diakses. Film, serial, gim, dan berbagai konten digital bisa dinikmati tanpa harus membuat janji dengan siapa pun.
Tuan Rumah juga Ingin Menikmati
Menjadi tuan rumah tidak selalu berarti bisa menikmati waktu bersama teman. Ada yang justru sibuk bolak-balik ke dapur, menyiapkan makanan, atau memastikan kebutuhan tamu terpenuhi sehingga sulit terlibat dalam percakapan.
Persoalan lain adalah menentukan kapan pertemuan berakhir. Di restoran, jam operasional bisa menjadi batas alami. Sementara itu, di rumah, tuan rumah terkadang sungkan meminta tamu pulang meski sudah lelah atau ingin beristirahat.
Karena itu, sebagian orang memilih bertemu di luar rumah agar bisa menikmati waktu bersama tanpa harus mengurus terlalu banyak hal.
Meski bertemu di kafe atau restoran lebih praktis, menjamu teman di rumah menawarkan kedekatan yang berbeda. Menurut Kaur, mengundang seseorang ke rumah berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihat bagian kehidupan yang lebih私家. Teman bisa mengenal kebiasaan sehari-hari, berinteraksi dengan anggota keluarga, atau mengobrol dengan lebih leluasa.
Lum juga menilai bahwa upaya menjamu tamu menjadi bagian dari nilai kegiatan tersebut. Menyiapkan makanan dan berbagi meja makan bisa menjadi cara untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain.
Meski begitu, menjamu teman tidak harus menjadi kegiatan yang melelahkan. Kaur menyarankan agar setiap orang menyesuaikan kegiatan sosial dengan energi dan kondisi mental masing-masing. Dengan begitu, berkumpul bersama teman tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan tanpa menambah beban.