Jelajahi BDT NEWS

Singapura Darurat Kabut Asap! Pemesanan Liburan Turun sampai 30%

Singapura menjadi salah satu negara yang sangat terdampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia. Kini penurunan pesanan liburan mulai turun.

travel.detik.com (Sumber) via Detik Travel • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 52 menit yang lalu
2 menit baca 0

Singapura - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali berdampak signifikan bagi negara tetangga, Singapura. Kabut asap yang berasal dari kebakaran di Sumatera Selatan dan Kalimantan terbawa angin tenggara hingga ke wilayah Singapura, mengganggu kualitas udara sekaligus menekan sektor pariwisata setempat.

Yeo Yen Ping, pendiri On A Roll Tour, mengungkapkan kepada Channel News Asia (CNA) bahwa sejumlah pelaku bisnis pariwisata luar ruangan di Singapura mengalami penurunan pemesanan hingga 30 persen. Kondisi ini membuat banyak pelanggan memilih menunda atau membatalkan rencana liburan mereka.

"Pemesanan tur kick scooter dan jalan kaki turun 10-20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Yeo. Ia menambahkan bahwa harga hotel dan penerbangan yang lebih tinggi juga turut berkontribusi terhadap penurunan tersebut.

Sebagai respons terhadap situasi ini, Yeo telah menyesuaukan operasionalnya. Ia kini mengarahkan pelanggan pada tur jalan kaki atau pengalaman di dalam ruangan ketika kualitas udara memasuki tingkat yang tidak sehat. Dalam rangkaian tur yang ia tawarkan, Yeo juga menyisipkan beberapa pemberhentian di tempat-tempat ber-AC, seperti Galeri Nasional, Victoria Theatre and Concert Hall, museum, dan Singapore City Gallery.

Berbeda dengan pelaku pariwisata darat, perusahaan penyewaan kapal pesiar memiliki keterbatasan dalam menawarkan alternatif. Wanderlust Adventures, yang menyediakan penyewaan kapal pesiar minimal berdurasi empat jam, turut merasakan dampak serupa.

Quek Wee Teck, Direktur Wanderlust Adventures, menyatakan bahwa bisnisnya turun 30 persen sejak September. Wisatawan mancanegara menyumbang lebih dari separuh pelanggan perusahaan, dengan pengunjung berasal dari Tiongkok, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

"Biasanya kami menerima banyak wisatawan Tiongkok selama liburan nasional mereka yang dimulai pada 1 Oktober. Sayangnya, wisata pesiar tahun ini mengalami penurunan tajam," kata Quek.

Sementara itu, Singapore River Cruise yang menawarkan perjalanan 40 menit mengatakan tidak melihat perubahan signifikan dalam bisnis mereka.

Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) mencatat, Singapura pertama kali mencatat kualitas udara tidak sehat terkait kabut asap pada 4 September, ketika Indeks Standar Polutan 24 jam mencapai 101 di wilayah tengah. Angka tersebut merupakan pembacaan pertama sejak Oktober 2023.

Situasi terus memburuk setelahnya. Pada Selasa pagi, Singapura tercatat berada di antara dua kota besar paling tercemar di dunia dengan indeks kualitas udara (AQI) sebesar 193.

Operator tur di Malaysia, negara tetangga yang juga terdampak, turut beradaptasi dengan kondisi serupa. Mint Leong, Presiden Asosiasi Pariwisata Inbound Malaysia, mengatakan bahwa operator di sana mempersingkat aktivitas luar ruangan dan menggantinya dengan kunjungan ke pusat perbelanjaan serta museum, sebagaimana dilaporkan TTG Asia.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK