Jelajahi BDT NEWS

Relawan Muda eYAA, Angkatan 6 Berupaya Atasi Kesenjangan Literasi di Papua Barat Daya

REPUBLIKA.CO.ID, SORONG – Indonesia terus memajukan pembangunan nasional, namun kesenjangan mendalam masih terlihat di antara pusat-pusat kota dan daerah-daerah terpencil di timur. Di Papua Barat Daya, banyak siswa sekolah dasar...

Gilang Akbar Prambadi (Penulis sumber) • republika.co.id (Sumber) via Republika Daerah • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 minggu yang lalu
7 menit baca 0

Kesenjangan literasi masih menjadi tantangan di Papua Barat Daya. Sejumlah siswa sekolah dasar kelas 3 hingga 6 dilaporkan masih kesulitan membaca dan berhitung dasar meski telah bersekolah selama bertahun-tahun. Kondisi ini berisiko menghambat kemampuan belajar dan peluang mereka pada masa depan.

Di sisi lain, komunitas pedesaan di Nusa Tenggara Timur menghadapi tantangan dalam mempertahankan tenun tradisional Sumba. Akses pasar yang terbatas, promosi yang belum optimal, serta ketergantungan pada perantara turut mengurangi pendapatan para penenun.

Untuk merespons persoalan tersebut, Maybank dan ASEAN Foundation melalui program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA) Cohort 6 menyiapkan dua proyek komunitas yang berfokus pada pendidikan dan pelestarian budaya.

Program tersebut diawali dengan Lokakarya Pengembangan Kapasitas Regional yang berlangsung selama lima hari, pada 2-6 Juli 2026, di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand. Kegiatan itu mempertemukan 110 Relawan Muda serta perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) dan Perusahaan Sosial (SE) dari negara-negara ASEAN.

Angkatan keenam eYAA mencatat dua perkembangan penting. Untuk pertama kalinya, Republik Demokratik Rakyat Lao (Laos) bergabung sebagai negara pelaksana. Selain itu, aksesi Timor-Leste sebagai Negara Anggota ASEAN ke-11 turut meningkatkan jumlah Relawan Muda dari 100 menjadi 110 orang.

Penyelenggaraan eYAA Cohort 6 juga berlangsung pada 2026, yang telah diproklamasikan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Tahun Internasional Relawan untuk Pembangunan Berkelanjutan (IVY 2026). Penetapan tersebut menyoroti peran kesukarelawanan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, membangun komunitas yang tangguh, dan mendorong inklusi sosial.

Lokakarya eYAA menjadi wadah bagi tim sukarelawan untuk menyelesaikan 10 proyek komunitas yang akan dilaksanakan di delapan negara ASEAN, yakni Kamboja, Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Lao (Laos), Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

“Angkatan yang ke-6 mencerminkan ASEAN sekarang ini, dengan 11 Negara Anggota, delapan negara pelaksana, dan generasi muda yang merancang solusi bersama komunitas lokal, bukan sekadar melaksanakannya. Satu hal yang membedakan eYAA dari program lainnya adalah bahwa setiap proyek dimulai dari organisasi lokal yang sangat memahami komunitasnya masing-masing, dan setiap relawan masuk sebagai mitra, bukan pengunjung,” kata Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam.

Menurut Piti, perluasan program dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, mulai dari Vietnam pada Angkatan ke-5 hingga Laos pada Angkatan ke-6.

Maybank Foundation, yang telah menjadi mitra jangka panjang ASEAN Foundation sejak 2018, mendukung program tersebut melalui pendanaan hibah hingga 25.000 dolar AS atau setara dengan Rp448 juta untuk setiap tim proyek.

Kepala Bagian Keberlanjutan Grup Maybank, Datuk Shahril Azuar Jimin, mengatakan pihaknya melihat para penggerak perubahan muda berkembang dari sekadar sukarelawan menjadi katalisator transformasi komunitas di seluruh ASEAN.

“Kemampuan mereka untuk terhubung dengan komunitas lokal, memahami tantangan nyata, dan mendorong solusi mewujudkan semangat dampak sosial yang positif. Di Maybank, hal ini selaras dengan komitmen ROAR30 kami untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menciptakan nilai di luar ranah perbankan. Bersama ASEAN Foundation, kami terus membangun wadah yang memberdayakan kaum muda untuk mengubah gairah menjadi tindakan dan ide menjadi hasil nyata, yang berdampak bagi masyarakat,” kata dia.

Angkatan keenam juga memperkuat keterlibatan alumni melalui program Alumni as Mentors dan Alumni Accelerator. Dalam program Alumni as Mentors, alumni terpilih dari angkatan sebelumnya memberikan orientasi budaya, wawasan lokal, dan dukungan kepada relawan tahun ini.

Sementara itu, Alumni Accelerator menyediakan hibah hingga 2.500 dolar AS atau setara dengan Rp44 juta bagi tim proyek yang dipimpin alumni. Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan dan melaksanakan inisiatif komunitas yang memberikan dampak di tingkat lokal.

Sejak dimulai, eYAA telah memberdayakan 482 Relawan Muda, melaksanakan 50 proyek komunitas, dan memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 114.000 orang di seluruh ASEAN. Program ini dikembangkan secara bertahap dengan menambahkan negara baru berdasarkan ketersediaan kemitraan lokal yang kuat dan infrastruktur komunitas yang memadai.

Sepuluh proyek pada Angkatan ke-6 mencakup bidang pembangunan komunitas, seni dan budaya, keanekaragaman lingkungan, serta pendidikan. Indonesia menjadi tuan rumah dua proyek yang menanggapi kebutuhan lokal di bidang pendidikan dan pelestarian budaya.

Proyek pertama, “Accelero” yang digagas PT Lima Dua Edukasi, berfokus pada masalah pembelajaran dasar di Sorong, Papua Barat Daya. Banyak siswa kelas 3 hingga 6 belum mampu membaca dengan lancar dan melakukan numerasi dasar meski telah terdaftar di sekolah.

Proyek tersebut menerapkan kegiatan ekstrakurikuler berbasis komunitas dengan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL). Siswa dinilai dan dikelompokkan berdasarkan tingkat pembelajaran aktual, bukan berdasarkan kelas, kemudian mengikuti sesi literasi dan numerasi terstruktur empat kali dalam sepekan.

Program ini juga melatih 50 fasilitator lokal, termasuk mahasiswa dan guru, untuk memberikan pendampingan. Selain itu, buku anak-anak akan didistribusikan ke pojok baca komunitas, sementara orang tua dilibatkan melalui dukungan pembelajaran berbasis rumah.

“Accelero” ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada 550 orang, yang terdiri atas 500 siswa sekolah dasar dan 50 fasilitator lokal. Proyek tersebut juga diharapkan menjangkau 1.100 penerima manfaat tidak langsung melalui keterlibatan orang tua dan ruang baca komunitas, serta memiliki jangkauan digital hingga 100.000 orang.

Proyek itu menargetkan sedikitnya 60 persen siswa peserta mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca dan berhitung pada akhir masa implementasi selama enam bulan.

“Kami percaya bahwa anak-anak Indonesia adalah generasi pemimpin masa depan, dan kami tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa mereka memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan akibat hambatan ekonomi, kapasitas intelektual, keterbatasan fisik, atau keterpencilan geografis,” ujar perwakilan PT Lima Dua Edukasi.

“Sebagian besar sekolah di Papua berlokasi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Melalui proyek ini, kami ingin membekali anak-anak ini dengan keterampilan dasar yang mereka perlukan agar berhasil,” lanjutnya.

Proyek kedua, “Sumba Weaving Museum” yang digagas PT Tenun Indonesia Sejahtera, berfokus pada pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi di Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Galeri tenun di wilayah tersebut menghadapi jumlah pengunjung dan penjualan yang rendah akibat keterbatasan informasi, pengemasan wisata yang belum memadai, serta ketergantungan pada perantara. Melalui proyek ini, galeri akan dikembangkan menjadi Museum Tenun Sumba yang dikurasi dan mendokumentasikan seluruh proses pembuatan tenun, mulai dari persiapan benang dan pewarna alami hingga makna motif serta tekstil jadi.

Proyek tersebut juga mengembangkan paket wisata yang menggabungkan kunjungan museum dengan demonstrasi langsung, tarian tradisional, dan pengalaman kuliner lokal.

Penjualan langsung bagi para penenun akan diperkuat melalui penetapan harga yang transparan, kurasi produk, serta pelatihan pembuatan produk turunan, seperti aksesori do it yourself (DIY) dari sisa kain tenun.

Selain itu, proyek ini membangun kapasitas pemasaran lokal melalui pelatihan media sosial bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pembuatan situs web sederhana dan katalog digital, serta pengembangan praktik perdagangan langsung. Sebanyak 11 Relawan Muda ASEAN akan bersama-sama merancang pengalaman pengunjung dan kegiatan pemasaran selama berada di lokasi.

“Sumba Weaving Museum” ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada 500 orang. Mereka terdiri atas 50 penenun utama di Kampung Raja Pau, 10 fasilitator pemuda setempat, 10 penenun muda yang mengikuti pelatihan produk turunan, serta 430 penenun lainnya di Desa Watuhadang yang akan memperoleh manfaat dari perbaikan sistem.

Proyek tersebut melibatkan tujuh kelompok tenun di wilayah itu dan bertujuan menciptakan pendapatan berkelanjutan sekaligus melindungi pengetahuan budaya yang diverifikasi oleh praktisi budaya lokal.

“Kain tenun ikat Sumba merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sangat berharga bagi masyarakat Kabupaten Sumba,” ujar perwakilan PT Tenun Indonesia Sejahtera.

“Lebih dari sekadar produk tekstil, ini merupakan bagian integral dari identitas budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Kami tidak ingin anak cucu kita kehilangan warisan indah dan kaya ini. Proyek ini memastikan bahwa tradisi menenun tetap hidup dan tetap layak secara ekonomi bagi masyarakat,” lanjutnya.

Melalui penguatan pendidikan dasar di Papua Barat Daya dan pelestarian warisan budaya di Sumba Timur, eYAA Cohort 6 menjalankan proyek berbasis komunitas dengan dukungan Relawan Muda ASEAN. Kedua inisiatif tersebut diarahkan untuk meningkatkan hasil pendidikan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK