Jelajahi BDT NEWS

Pakar Akui Bahan Baku Bioetanol Terbatas tidak Seperti Biodiesel

Rencana pemerintah untuk meningkatkan porsi bioetanol pada bahan bakar minyak (BBM) hingga E10 maupun E20 dihadapkan sejumlah tantangan berat.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Indonesia Otomotif • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 2 minggu yang lalu
3 menit baca 0

Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com --

Rencana pemerintah meningkatkan porsi bioetanol dalam bahan bakar minyak (BBM) hingga E10 dan E20 menghadapi sejumlah tantangan.

Berbeda dengan biodiesel berbasis kelapa sawit yang pasokan bahan bakunya relatif aman, ketersediaan bahan baku bioetanol di dalam negeri saat ini masih sangat terbatas.

Secara teknis, bioetanol di Indonesia dapat diproduksi dengan memanfaatkan komoditas lokal, seperti tebu, singkong, jagung, serta sejumlah tanaman pendukung lainnya. Namun, rantai pasok bahan baku bioetanol belum sekuat biodiesel.

"Bioetanol kan perlu bahan baku ya. Nah, di Indonesia bahan bakunya tuh belum tersedia banyak seperti untuk biodiesel," kata Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo dalam Evolution Forum, Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies, Rabu (30/9).

Ia menjelaskan, penyediaan bahan baku bioetanol membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. Pengembangan komoditas pertanian atau perkebunan dalam skala besar memerlukan proses panjang, mulai dari penyiapan lahan hingga masa panen.

"Dan itu enggak mudah karena bahan bakunya itu harus menyediakan lahan yang besar, kemudian ditanam, kemudian dibesarkan kemudian bisa dipanen. Itu butuh waktu paling enggak 5 sampai 10 tahun gitu ya. Nah, jadi kalau sekarang mau diramaikan E10, E20. Jadi kalau mau betul jalan itu ya apa boleh buat gitu kita harus impor gitu, enggak seperti untuk biodiesel begitu kan," jelasnya.

Menurut Iman, ketersediaan pasokan dalam negeri menjadi tantangan utama bagi keberlanjutan program bioetanol. Bahkan untuk tingkat bauran yang rendah, kapasitas produksi domestik dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan secara nasional.

"Tantangannya ya bahan bakunya tersedia enggak gitu. Kalau untuk 5 persen itu tidak mandatori 5 persen seluruh Indonesia itu tidak terpenuhi gitu. Jadi kalau pemerintah bilang kita mau masuk E20, mungkin bisa jawab sendiri tuh bahan bakunya dari mana gitu. Kalau bahan bakunya impor, apakah impornya lebih murah dibandingkan impor bensin," tutur Iman.

Dari sisi kesiapan teknologi kendaraan, Iman optimistis industri otomotif lokal relatif siap mengadopsi bahan bakar ramah lingkungan tersebut.

"Jadi itu jawabannya mungkin kurang memuaskan, tapi kalau dari segi engine atau mobilnya sebetulnya sudah bisa E10," ucapnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan skema pembiayaan pengembangan industri bioetanol nasional yang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN), swasta, dan masyarakat.

Pemerintah akan memastikan ketersediaan dan kepastian lahan serta legalitas kawasan. Sementara itu, masyarakat didorong untuk menjadi bagian dari ekosistem usaha agar pengembangan bioetanol dapat dirasakan secara luas.

Hal itu disampaikan Amran seusai Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai provinsi di Indonesia di Jakarta, Senin (21/9).

Menurut dia, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui pengembangan biofuel berbasis komoditas pertanian.

"Sekarang pangan selesai (swasembada), protein sudah selesai. Sekarang etanol kita kejar. Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektar dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakan masif seluruh Indonesia," tutur Amran.

Apa itu B50

Istilah biosolar dan B50 kerap dianggap sama, padahal keduanya memiliki pengertian berbeda.

Biosolar merupakan minyak solar yang telah dicampur dengan biodiesel, sedangkan B50 menunjukkan kadar campurannya, yakni 50 persen biodiesel, yang menjadi mandatori di Indonesia saat ini.

Keduanya termasuk dalam kategori biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Biodiesel merupakan salah satu jenis BBN yang dibuat dari minyak nabati. Di Indonesia, biodiesel berbahan baku kelapa sawit.

Sementara itu, biosolar merupakan campuran biodiesel dan solar fosil. Adapun B50 menunjukkan kadar biodiesel dalam campuran tersebut, yakni 50 persen. Karena itu, ketiga istilah tersebut perlu dibedakan karena memiliki arti yang berbeda.

(hjn/mik)

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK