Jakarta, BeritaDuniaTerbaru.com -- BYD Malaysia resmi menunjuk Inokom Corporation, anak usaha Sime Motors, sebagai mitra perakitan kendaraan secara completely knocked down (CKD). Keputusan ini berbeda tajam dengan strategi yang ditempuh BYD di Indonesia yang memilih membangun dan mengoperasikan pabrik sendiri di Subang, Jawa Barat.
Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di kantor pusat global BYD, Shenzhen, China. Inokom berbasis di Kulim, Kedah, dan selama ini dikenal sebagai perakit kendaraan untuk sejumlah produsen otomotif global.
"Perakitan lokal adalah bagian penting dari komitmen jangka panjang BYD terhadap Malaysia. Bermitra dengan Sime untuk merakit di Inokom memungkinkan kami membangun di atas kapabilitas manufaktur otomotif yang sudah mapan seiring kami memajukan rencana perakitan lokal," kata Jacob Ma, Managing Director BYD Malaysia.
Kebijakan pemerintah Malaysia turut mendorong langkah ini. Sejak 1 Juli, Negeri Jiran mewajibkan mobil listrik impor utuh atau completely built up (CBU) bernilai cost, insurance, and freight (CIF) minimal 200.000 ringgit atau setara Rp883 juta dengan tenaga minimal 180 kW. Beberapa model terlaris BYD di Malaysia diketahui dijual di bawah ambang tersebut, sehingga perakitan lokal menjadi kebutuhan mendesak.
Rencana Pabrik Sendiri Batal
BYD sebenarnya pernah mengumumkan rencana membangun pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak, pada Agustus 2025. Rencana itu kemudian dikesampingkan. Menurut laporan The Edge yang dikutip Nikkei Asia, rencana tersebut diragukan setelah BYD tidak menyepakati syarat dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia. Salah satu kendalanya adalah kewajiban mengekspor hingga 80 persen kendaraan rakitan lokal.
BYD sendiri tidak memberikan penjelasan resmi terkait pembatalan tersebut.
Posisi BYD di pasar Malaysia juga mulai tergerus. Data Nikkei Asia mencatat BYD menjadi penjual kendaraan listrik terbesar di Malaysia pada 2025 dengan 14.407 unit, namun kini posisinya disalip Proton. Berdasarkan data Departemen Transportasi Jalan Malaysia yang dihimpun paultan.org, Proton memimpin dengan 24.857 unit terdaftar pada Januari hingga September 2026, jauh mengungguli BYD yang hanya mencatatkan 8.087 unit.
Jalur Berbeda di Indonesia
Di Indonesia, BYD menempuh jalur yang berbeda. Pabrik BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park diresmikan pada 3 September 2026, berdiri di lahan 126 hektare dengan investasi Rp11,6 triliun dan kapasitas maksimal 150.000 unit per tahun.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), produksi BYD di Indonesia sudah berjalan sejak April dengan total 32.040 unit hingga September. Impor utuh BYD sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat tinggal 1.108 unit, menurun signifikan dari 27.795 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Malaysia, BYD belum mengumumkan model apa yang akan dirakit di Inokom maupun jadwal produksinya.
"Kami bertujuan mendekatkan keahlian BYD di bidang kendaraan energi baru dan teknologi baterai ke pasar Malaysia, sembari berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan industri otomotif lokal," tutur Jacob Ma.