Jelajahi BDT NEWS

7 Alasan Kenapa Borobudur Selalu Masuk Daftar Kunjungan Wisatawan dari Seluruh Dunia

Inilah 7 alasan Candi Borobudur wajib dikunjungi wisatawan dunia! Mulai dari sejarah, arsitektur, hingga cara pesan tiketnya di Traveloka.

liputan6.com (Sumber) via Liputan6 Lifestyle Travel • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 jam yang lalu
3 menit baca 0

BeritaDuniaTerbaru.com, Magelang — Candi Borobudur di Jalan Badrawati, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terus menarik perhatian wisatawan mancanegara. Berikut tujuh alasan mengapa candi bersejarah ini layak masuk dalam daftar kunjungan.

1. Status Warisan Dunia UNESCO sejak 1991

Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1991. Pengakuan ini diberikan karena Borobudur dianggap sebagai mahakarya arsitektur Buddha dan seni monumental, dengan perpaduan stupa serta candi yang membentuk keunikannya.

Sebelum penetapan itu, pemugaran besar pernah dilakukan dengan bantuan UNESCO pada kurun 1975 hingga 1982. Setelahnya, candi tetap berfungsi sebagai situs arkeologi sekaligus tempat ziarah umat Buddha.

2. Candi Buddha Terbesar dari Masa Dinasti Syailendra

Borobudur dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Bangunannya memiliki tinggi sekitar 35 meter dengan denah bujur sangkar bersisi sekitar 120 meter. Candi ini diperkirakan tersusun dari 55.000 meter kubik batu, atau setara dua juta balok batu yang sourcedari sungai di sekitarnya.

Candi ini berasal dari masa Dinasti Syailendra dan dibangun antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Penyelesaiannya dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Samaratungga, sekitar tahun 825 Masehi.

3. Arsitektur Bertingkat dengan 72 Stupa Berlubang

Borobudur tersusun bertingkat dari dasar hingga puncak, mengelilingi bukit alami. Bagian bawahnya berbentuk piramida, lalu berlanjut ke tiga pelataran melingkar dengan satu stupa besar di puncaknya.

Pada pelataran melingkar di bagian atas terdapat 72 stupa berlubang yang masing-masing menyimpan satu patung Buddha. Jumlah itu merupakan sebagian dari total 504 arca Buddha yang tersebar di seluruh kompleks candi.

4. Relief Kehidupan Buddha dan Jawa Kuno

Dinding dan pagar langkan Borobudur dipenuhi relief batu yang diukir rumit, mencapai 2.672 panel dengan luas permukaan relief sekitar 2.500 meter persegi. Ukiran itu menggambarkan kehidupan Buddha sekaligus kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Tidak semua relief dapat dilihat langsung karena sebagian tersembunyi di kaki candi. Bagian tersembunyi itu terdiri dari 160 panel Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab akibat. Fotografi relief ini dipamerkan di Museum Karmawibhangga, yang berjarak beberapa ratus meter di utara candi.

5. Pemandangan dari Puncak dan Borobudur Sunrise

Dari puncak candi, pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan hijau yang luas. Saat matahari terbit, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menjadi latar belakang yang menawan.

Program Borobudur Sunrise memungkinkan wisatawan menikmati matahari terbit dari struktur candi. Program ini dimulai pukul 04.00 WIB setiap hari dengan kuota 100 orang per hari. Paket yang tersedia mencakup senter dan sarapan. Kuota terbatas itu mengharuskan wisatawan memperhatikan jadwal serta memesan tiket sejak dini.

6. Naik ke Struktur Candi dengan Upanat dan Pemandu

Pengunjung yang naik ke struktur candi wajib memakai alas kaki khusus bernama upanat, terbuat dari anyaman pandan, batok kelapa, dan busa ati. Setelah digunakan, upanat boleh dibawa pulang sebagai suvenir. Selama naik candi, pengunjung juga didampingi pemandu wisata resmi.

Sesi naik candi tersedia pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Untuk wisatawan domestik dewasa, tarif naik candi sekitar Rp150 ribuan, sedangkan tiket pelataran sekitar Rp50 ribuan.

7. Festival Lampion Borobudur saat Waisak 2026

Festival Lampion Borobudur 2026 dijadwalkan pada Minggu, 31 Mei 2026, dan diselenggarakan oleh Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia. Pelepasan lampion dibagi dua sesi, yakni pukul 17.30 hingga 19.30 WIB dan pukul 21.30 hingga 23.00 WIB.

Tiket reguler dijual sekitar Rp550 ribuan dan tiket VIP sekitar Rp2 jutaan. Peserta harus berusia minimal 7 tahun, dan satu lampion dilepas oleh minimal empat orang. Pakaian putih dianjurkan. Tiket yang dibeli mencakup satu unit lampion, kartu harapan, serta akses masuk candi.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK