Jelajahi BDT NEWS

Studi Ungkap Tanda-tanda Psikopat, Bisa Terlihat dari Tulisan Seseorang

Studi mengungkap tiga ciri psikopati yang berkaitan dengan pola penggunaan bahasa dalam tulisan, mulai dari kata-kata hingga pengalaman hidup seseorang.

health.detik.com (Sumber) via Detik Health • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 jam yang lalu
4 menit baca 0

Berdasarkan informasi yang kami himpun,

Jakarta -

Psikopati (psychopathy) tidak tercantum sebagai pemeriksaan tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), panduan yang digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental. Meski demikian, istilah psikopati masih banyak digunakan, terutama dalam penelitian pengetahuan jiwa dan kriminologi, untuk menggambarkan kombinasi ciri kepribadian tertentu.

"Namun, dimensi psikopati dapat memprediksi sejumlah hasil penting, seperti tindak kriminal, pengulangan tindak kejahatan, atau kekerasan terhadap pasangan intim."

Sebagai contoh, peserta yang memperoleh skor tinggi pada dimensi boldness dalam TriPM cenderung lebih jarang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan kekhawatiran dalam tulisan mereka. Kata-kata tersebut antara lain "khawatir", "takut", "merasa gentar", dan "gugup".

Mereka juga diminta menulis tentang kehidupan masing-masing, termasuk pengalaman terbaik, pengalaman terburuk, dan peristiwa penting yang menjadi titik balik dalam hidup mereka.

Peserta dengan skor tinggi pada dimensi ini cenderung lebih jarang menyebutkan hasil atau pengalaman positif dalam ketiga tulisan yang mereka buat.

(suc/suc)

"Dengan demikian, kita dapat memandang bagaimana ciri-ciri tersebut memengaruhi mahasiswa, mahir di dunia kerja, maupun hubungan antarindividu."

Bray dan Drislane merekrut 307 mahasiswa sarjana serta 144 mantan narapidana yang berasal dari masyarakat umum. Para peserta diminta mengisi kuesioner Triarchic Psychopathy Measure (TriPM), yang dirancang untuk mengukur tingkat tiga ciri kepribadian tersebut.

Namun, cara mereka menggunakan bahasa dalam situasi tertentu mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang dianggap tepat oleh orang lain.

"Melihat psikopati dari perspektif multidimensi memungkinkan kita mengawasi bagaimana ciri-ciri tersebut dapat muncul pada orang-orang di luar populasi forensik, termasuk mereka yang tidak pernah melakukan tindak kriminal," kata Bray.

"Itulah salah satu argumen munculnya kecenderungan untuk tidak lagi menyebut seseorang sebagai 'psikopat', karena kami tidak memandang psikopati sebagai sebuah kategori tunggal," ujar Drislane.

"Penelitian kami, termasuk studi ini, menunjukkan pentingnya memandang lebih jauh dari sekadar label dan memahami beragam komponen atau dimensi psikopati. Sebab, setiap dimensi memiliki kaitan tersendiri dengan hasil atau perilaku tertentu yang dapat diprediksi.

Sementara itu, peserta dengan skor tinggi pada dimensi meanness cenderung lebih jarang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan emosi negatif, seperti "buruk", "benci", "sakit", atau "lelah", ketika menulis tentang peristiwa penting yang menjadi titik balik dalam hidup mereka.

"Orang cenderung menganggap psikopati sebagai satu perihal yang utuh, padahal sebenarnya kondisi ini memiliki banyak dimensi," kata Bray, dikutip dari Science Alert.

Selain itu, mereka lebih sering menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan konsumsi zat, seperti "bir", "anggur", "mabuk", dan "cerutu", ketika menceritakan pengalaman terburuk dan peristiwa titik balik dalam hidup. Kecenderungan ini tidak terlihat ketika mereka menulis tentang pengalaman terbaik.

Mereka juga cenderung menggunakan bahasa yang lebih negatif ketika menggambarkan pengalaman terbaik dan peristiwa titik balik dalam hidup dibandingkan peserta lain. Namun, pola tersebut tidak ditemukan ketika mereka menulis tentang pengalaman terburuk.

Menurut model triarkis, kepribadian psikopatik memiliki tiga karakteristik utama, ialah keberanian atau ketangguhan (boldness), kurangnya pengendalian diri (disinhibition), dan sikap tidak peduli terhadap orang lain (meanness).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan orang dengan ciri-ciri psikopati tidak selalu kehilangan unsur emosi atau makna personal. Temuan ini bertentangan dengan stereotip yang menggambarkan psikopat sebagai sosok dingin, kejam, dan identik dengan kriminalitas.

Dibandingkan dua karakteristik lainnya, disinhibition atau kurangnya pengendalian diri menunjukkan pengaruh paling besar terhadap penggunaan bahasa.

"Hal itu berguna kita perlu memahami faktor-faktor unik yang berkontribusi terhadap masing-masing dari ketiga dimensi tersebut."

Setiap orang memiliki ciri-ciri tersebut dalam kadar tertentu. Namun, persoalan dapat muncul ketika ketiga karakteristik itu muncul secara berbarengan dengan tingkat yang tinggi.

Sebuah studi baru yang dilakukan peneliti pengetahuan jiwa klinis Ky Bray dan Laura Drislane dari University of Mississippi menunjukkan ciri-ciri tersebut dapat terlihat dalam tulisan seseorang. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pola tulisan mereka tidak selalu sesuai dengan stereotip yang selama ini melekat pada sosok psikopat. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences.

"Jika kita mau menangani atau, idealnya, mencegah perkembangan psikopati, kita perlu memahami sistem yang mendasarinya," ujar Drislane.

Bray menegaskan bahwa tujuan penelitian ini bukan menggunakan tulisan untuk mendiagnosis psikopati. Terlebih, psikopati sendiri bukan pemeriksaan formal. Penelitian ini bertujuan menunjukkan bagaimana ciri-ciri psikopati dapat muncul dalam perilaku sehari-hari, termasuk melalui penggunaan bahasa.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK