Palembang, BeritaDuniaTerbaru.com —
Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu 18 Oktober pagi, setelah sempat menipis pada hari sebelumnya. Asap pekat kembali mengepung pemukiman warga sejak pukul 06.00 WIB, membuat jarak pandang terbatas dan bau asap menyengat hingga ke dalam rumah.
Kondisi terparah terpantau di wilayah Gandus. Di Perumahan Albarian Gandus, asap tebal menyelimuti permukiman sejak dini hari dan bertahan hingga pagi, mengganggu aktivitas warga setempat.
"Ya tebal, saat saya keluar rumah dan mau berjualan asap sangat tebal," kata Yana, salah satu warga Perumahan Albarian Gandus, kepada BeritaDuniaTerbaru.com, Minggu 18 Oktober. "Mata perih dan sesak napas."
"Padahal kemarin sudah sedikit berkurang. Kemarin kabut menipis tapi pagi ini sangat tebal," tutur warga lain bernama Yudi. Ia menambahkan, jarak pandang di wilayahnya hanya berkisar 100 meter akibat tertutup kabut asap.
Berdasarkan data pemantauan pada Minggu dini hari hingga pagi, wilayah Gandus mencatat Air Quality Index (AQI) sebesar 163 pada kategori tidak sehat dengan kondisi smoke. Suhu tercatat 27 derajat Celsius, kelembapan 83 persen, dan kecepatan angin hanya 2 kilometer per jam, membuat asap cenderung mengendap dan tidak bergerak.
Secara umum, data pemantauan untuk seluruh Kota Palembang mencatat AQI 149 pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif dengan polutan utama PM2.5.
Asap pekat kembali mengepung pemukiman warga sejak Minggu (18/10) pukul 06.00 WIB. Di sejumlah ruas jalan, jarak pandang terbatas dan bau asap menyengat tercium hingga ke dalam rumah. Foto: BeritaDuniaTerbaru.com/Hanif Khairandi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah melakukan uji coba penyemaian 2,4 ton dry ice untuk mengurai kabut asap dan meningkatkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dari 1.000 meter menjadi 2.800 meter. Namun, kondisi pagi ini yang menunjukkan asap kembali menebal membuat sebagian warga mempertanyakan efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilakukan pemerintah.
"Padahal pemerintah sudah melakukan uji coba dry ice kenapa masih tebal. Habisin uang saja," kata Yudi.
Asap yang menyelimuti Palembang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan wilayah sekitarnya. Pergerakan asap yang terbawa angin serta tingginya kelembapan di pagi hari ikut berkontribusi pada meningkatnya konsentrasi polutan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi pada Minggu 18 Oktober siang, suhu Palembang akan mencapai 36 derajat Celsius dengan sensasi 41 derajat Celsius dan potensi hujan sebesar 11 persen.
Warga diimbau untuk tetap menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.