Berdasarkan pemantauan kami,
Jakarta -
Jepang Sahabat Dagang Indonesia
Pada 2024 - 2025, ekspor kopi upaya mikro ringkas dan menengah (UMKM) Indonesia mengalami tren peningkatan. Ini artinya konsumen dari Jepang sangat mengapresiasi kualitas, keberlanjutan dan karakteristik kopi Indonesia yang unik. Masih ada ruang di pasar Jepang untuk kopi-kopi Indonesia.
"Jadi semakin berkualitas, nilainya akan semakin tinggi. Kita juga ingin meningkatkan nilai ekspor kopi Indonesia ke Jepang. Tak kenal maka tak sayang, jadi kopi wajib diperkenalkan karena kopi kita yang bernilai banyak sekali. Tapi kita berusaha mana yang cocok pada pasar tertentu, segmentasi pasarnya seperti apa dan niche marketnya seperti apa," jelas dia.
Dicukil dari informasi International Trade Centre (ITC) Trade Map yang dikutip Kementerian Perdagangan RI (Kemendag), nilai ekspor kopi Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan. Nilai ekspor kopi Indonesia tercatat sebesar US$ 929,1 juta pada 2023, meningkat menjadi US$ 1,64 miliar pada 2024, dan kembali melonjak hingga US$ 2,51 miliar pada 2025.
Ada serangkaian kurasi yang wajib dilewati UMKM bimbingan BI dalam mengikuti pameran ini. Hal ini supaya BI bisa mengetahui kualitas, konsistensi mutu, cupping skor hingga rasa kopi yang mereka hasilkan.

Untuk Kopi dari Gunung Buthak ini memiliki beberapa proses panen antara lain anaerob, fullwash, honey dan natural. Gunung Buthak ialah Gunung dengan ketinggian 2.868 mdpl yang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.
Menurutnya tak hanya Jepang, negara lain juga menyukai kopi Indonesia. Dia mengharapkan akan terus terjadi peningkatan produksi dan ekspor kopi Indonesia.
Saat ini Jepang menjadi salah satu partner jual beli strategis Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke Jepang pada 2025 mencapai US$ 17,4 miliar. Meskipun ada perlambatan di beberapa sektor, ekspor kopi Indonesia malah mencatatkan kemampuan yang baik di pasar Jepang, khususnya segmen speciality coffee.
Dalam kunjungannya di Paviliun Indonesia, Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menjelaskan bank sentral saat ini sangat serius untuk mengembangkan produk kopi Indonesia untuk diekspor.
"Ini baru pertama kali coba minum kopi dari Jawa Timur, enak banget! Sangat fruity, saya sangat suka, terima kasih!," kata dia.

Paviliun Indonesia menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi oleh warga Jepang yang memang sangat mencintai kopi. Mereka mencecap kopi-kopi Indonesia yang dibawa ke Tokyo.
Warga Jepang antusias di Paviliun Indonesia
Pameran ini mempertemukan produsen kopi, importir, roaster, barista, distributor, serta pelaku industri peralatan dan layanan kopi. SCAJ merupakan salah satu pameran specialty coffee terbesar di Asia dan secara konsisten menghasilkan bermacam-macam kesempatan bisnis, ekspansi jejaring, serta peningkatan eksposur produk UMKM bimbingan kepada pasar internasional.
Bank Indonesia membawa 20 kopi dari UMKM bimbingan yang tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Argopuro Walida, Asa Coffee Gayo, Dellacious Coffee, Java Halu Coffee, Kaghomasa, Kelompok Tani Maju Mekar, Kikova Coffee, Koperasi Pedagang Kopi (Kopepi Ketiara, Koperasi Produsen Emas Hijau Papua, Koperasi Produsen Lembah Gunung Buthak, Kopi Bukit Barisan, LMDH Rekso Trimulyo, Melaya Coffee, Poktan Sekari Mandiri, Posong Coffee Sindoro, Punjer'E Kopi, Robusta Gunung Ambang, TukanG Seduh, Wanoja Kopi dan Euki Nusantara.
1st Q Grader Instructor/Direktur 5758 Coffee Lab, Adi Taroepratjeka
Tak kenal maka tak sayang, ada visitor pameran berjulukan Junko Uesugi yang rela jauh-jauh menempuh perjalanan dari Kyoto ke Tokyo menggunakan Shinkansen demi datang ke pameran kopi terbesar se Asia ini.
Melalui Koperasi Produsen Lembah Gunung Buthak di bawah bimbingan Bank Indonesia KPw Kediri, ada tiga jenis kopi yang dihasilkan yaitu Arabica yang ditanam pada 1.000 - 1.400 mdpl, robusta 600-800 mdpl dan liberika -mdpl. Sekadar info kopi Gunung Buthak ini sudah memiliki PIRT, NIP, Halal dan sudah diekspor ke Saudi Arabia dengan kapasitas produksi ekspor hingga 15 ton.
Rasa kopinya cocok untuk BeritaDuniaTerbaru.comers yang suka dengan aroma buah-buahan. Sesuai dengan apa yang disampaikan Adi, kopi ini sangat menyenangkan.
Bank Indonesia berperan-serta dalam SCAJ World Specialty Coffee Conference and Exhibition 2026. SCAJ 2026 diselenggarakan pada 14-17 Oktober 2026 di Tokyo Big Sight, Tokyo, dengan tema "Brew the Future".


Junko Uesugi
Tepat pukul 10.00 tanggal 14 Oktober 2026, pameran Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) World Specialty Coffee Conference and Exhibition 2026 dibuka. Para visitor mulai menuruni eskalator kemudian menyebar mencari kopi terbaik dan terenak di paviliun atau stand bermacam-macam negara yang menjadi peserta pameran.
Menurut Ricky, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar untuk ekspor ke bermacam-macam negara. Karena itu BI saat ini gencar memperkenalkan kopi Indonesia kepada dunia.
Untuk UMKM yang ikut serta ke Tokyo sebelumnya telah dikurasi oleh BI dan dipilih kopi-kopi terbaik dari yang paling terbaik untuk selera masyarakat Jepang. "Kopi bisa ekspor dan tentunya bisa meningkatkan taraf hidup petaninya serta bisa meningkatkan perekonomian juga," kata dia.
Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) BI Kurniawan Agung menambahkan BI berperan-serta di SCAJ sejak 2023 lalu. Bank sentral bekerja-sama dengan KBRI Tokyo, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk mempromosikan kopi Indonesia.

Junko dulunya memang pernah tinggal di Karawang, Jawa Barat. Dia menyebut, seperti memandang teman yang sudah lama tidak jumpa kala memandang ada Paviliun Indonesia di hall Tokyo Big Sight ini. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghampiri dan meminta kopi kepada barista yang sedang menyeduh.
Mengutip laporan Report Linker berjudul Forecast: Coffee Market Size Volume Per Capita in Japan, konsumsi kopi Jepang memang mengalami peningkatan. Pada 2023 konsumsi kopi per kapita di Jepang mencapai 3,65 kilogram dan diproyeksi mencapai 3,73 kilogram pada 2028.
Namun tren ini juga berpotensi mencapai titik jenuh di kalangan masyarakat Jepang bahkan dengan perubahan demografis dan kondisi ekonomi yang bisa memengaruhi pola konsumsi kopi di masa depan.
Di sisi lain, nilai impor kopi Jepang pada 2025 mencapai sekitar US$ 2,55 miliar, meningkat nyaris 49% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, ekspor kopi Indonesia ke Jepang baru mencapai sekitar US$ 67,37 juta atau sekitar 2,6% dari total impor kopi Jepang. (adv/adv)
"Hari ini temanya dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur. Kopi ini sangat wangi dan menyenangkan, kopi dari Gunung Buthak," kata 1st Grader Instructor/Direktur 5758 Coffee Lab Adi Taroepratjeka sembari menuangkan kopi hasil seduhannya kepada BeritaDuniaTerbaru.com di Paviliun Indonesia. Memang, setiap harinya kopi yang akan diseduh berbeda. Seperti ada kejutan setiap hari yang diberikan pameran ini.