Seperti yang kami sampaikan sebelumnya,
Jakarta -
Di sisi produksi, produser Pilip Tenonet dan Husnie Ramdan Rai berkeinginan sinema ini dapat menambah khazanah perfilman anak Indonesia, sekaligus menghadirkan tontonan yang menghibur dan meninggalkan kesan positif bagi keluarga.
"Buat saya sih enggak masalah. Kadang-kadang belum tentu mereka juga enggak berpengalaman," ungkapnya.
Selain Masayu Anastasia dan Sule, sinema Panik Gak Tuh turut dibintangi Iva Delvanna, Zuhri, Mael Lee, Davi Sumbing, Alvin Adams, Ryuken Lie, Aline Fauziah, Chika, dan Bambang Ceper.
"Ada keceriaan di kembali setiap tantangan. Begitulah perspektif pandang anak yang ingin saya tonjolkan di skenario ini," papar M. Haris Suhud.
(fbr/mau)
"Reading sudah memasuki tahap akhir. Big Reading hari ini. Artinya kami siap ke lokasi untuk pengambilan gambar," pungkas Husnie.
Secara khusus, Masayu mengaku bangga bisa terlibat dalam proyek yang disutradarai oleh Oki, sosok yang telah lama dikenalnya. Ia mengetahui bahwa menjadi sutradara merupakan cita-cita yang ingin diwujudkan Oki sejak beberapa tahun lalu.
"Iya. Makanya tiap kali kita reading, ada yang nyeletuk ini, nyeletuk itu. Jadi, kadang-kadang suka enggak habis-habis," tuturnya.
Ditulis oleh M. Haris Suhud, Panik Gak Tuh berkisah tentang liburan sanak kerabat yang berubah menjadi pengalaman tak terlupakan bagi dua bersaudara, Iva (9) dan Niko (12).
"Apalagi kayak saya sama Oki dari dulu kita berkawan dan saya tahu memang dia cita-citanya dari berapa tahun yang lampau memang pengin jadi director. Makanya ketika ditelepon, saya adalah salah satu orang yang bangga dia akhirnya bisa mewujudkan cita-citanya," kata Masayu.
Namun, situasi tersebut justru menjadi kesempatan bagi Iva dan Niko untuk menunjukkan kemahiran mereka. Dengan khayalan Iva yang tak pernah kehabisan nalar serta keberanian dan ketenangan Niko, keduanya berusaha menghadapi bermacam-macam tantangan yang muncul.
Rumah produksi SEEV Entertainment bekerja sama dengan Air Play dan Kesan Sinema bersiap memproduksi sinema drama petualangan anak berjudul Panik Gak Tuh. Dibintangi sejumlah nama, termasuk Masayu Anastasia danSule, sinema ini menawarkan kisah petualangan dua bersaudara yang dibalut komedi dan pesan positif untuk penonton keluarga.
"Kalau keseruan sih seru banget. Karena kita kebanyakan juga ketawa-ketawa. Terus bikin bonding buat chemistry-nya juga enggak sulit. Buat saya yang baru pertama kali drama komedi anak-anak, lucu saja. Jadi, pas reading juga serius enggak serius," ujar Masayu.
Iva digambarkan sebagai anak yang mempunyai cara berpikir unik. Ia selalu punya perspektif pandang sendiri dalam menghadapi bermacam-macam hal, mulai dari soal matematika tersulit hingga pertanyaan-pertanyaan absurd tentang dunia. Sementara itu, Niko merupakan sosok kakak yang tenang dan protektif, selalu berusaha menjaga adiknya meski menyimpan impian besar untuk dirinya sendiri.
Bagi Masayu Anastasia, keterlibatannya dalam sinema ini menjadi pengalaman tersendiri. Ia mengaku antusias sebab Panik Gak Tuh mengangkat perspektif pandang anak-anak dalam menghadapi bermacam-macam persoalan hidup.
"Tontonan sinema untuk anak di bioskop semakin marak. Kami berkeinginan bisa ambil bagian memberi sinema yang tidak cuma menghibur, tapi juga membawa kesan positif usai menonton," ujar Pilip.
Masayu juga mengungkapkan keseruan selama menjalani proses reading bersama para pemain. Menurutnya, suasana yang cair dan penuh banyolan membuat proses membangun chemistry antarpemain terasa lebih mudah.
Husnie Ramdan Rai yang juga bertindak sebagai sutradara menyampaikan bahwa persiapan produksi telah memasuki tahap akhir. Proses reading pun segera dituntaskan sebelum para pemain dan kru berangkat ke lokasi pengambilan gambar.
"Film ini membuat saya antusias berasosiasi sebab dengan perspektif pandang anak, bumi terkesan baik-baik saja. Apa pun masalahnya, pasti ada solusinya," kata Masayu Anastasia di Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis (15/10/2026).
Suasana reading yang diwarnai celetukan para pemain, terutama mereka yang mempunyai latar belakang komedi, bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi Masayu untuk menahan tawa.
Selain berbagi cerita tentang keseruan reading, Masayu juga menanggapi keterlibatannya dalam proyek yang mempertemukannya dengan sejumlah pemain dari generasi berlainan serta orang-orang yang sedang mengembangkan karier di bagian perfilman. Baginya, perbedaan generasi maupun pengalaman bukanlah persoalan.
Petualangan mereka dimulai ketika liburan sanak kerabat ke Villa Senja melangkah jauh dari rencana. Keduanya wajib menghadapi situasi sulit setelah ditinggalkan sendirian dan berhadapan dengan dua penjahat bernama Juki dan Iwenk, yang menganggap mereka hanya anak-anak yang mudah ditaklukkan.
Berdasarkan catatan kami, informasi ini penting untuk diketahui masyarakat luas.