BeritaDuniaTerbaru.com, Jakarta – Operator kompetisi I.League menyatakan kesiapan mendukung langkah PSSI dalam merespons berbagai insiden kekerasan yang mencoreng dunia sepak bola nasional. Opsi penguatan regulasi dan Kode Disiplin menjadi fokus utama, termasuk احتمال penerapan sanksi lebih berat berupa pengurangan poin bagi klub yang terbukti melakukan pelanggaran serius.
Dubes Ferry Paulus, Direktur Utama I.League, menegaskan bahwa ketegasan dalam penegakan aturan menjadi kunci menjaga perkembangan sepak bola nasional. Menurut dia, kemajuan kompetisi harus diiringi dengan tanggung jawab seluruh elemen, mulai dari klub, pemain, ofisial, hingga suporter dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Ferry menyayangkan sejumlah insiden kekerasan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk peristiwa yang menimpa rombongan pemain EPA One U18 Persib Bandung dan suporter Persija Jakarta. Ia menekankan bahwa rivalitas antarklub seharusnya menjadi bagian dari daya tarik sepak bola, bukan alasan untuk melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain.
"Kami sepenuhnya mendukung sikap Ketua Umum PSSI. Sepak bola Indonesia sedang berkembang ke arah yang semakin baik. Kompetisi semakin kompetitif, atmosfer stadion semakin hidup, dan suporter tim tamu akhirnya kembali bisa hadir. Semua kemajuan ini harus kita jaga. Jangan sampai tindakan kekerasan justru membawa sepak bola kita kembali mundur," ucap Ferry.
I.League Dorong Penguatan Kode Disiplin

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus memberikan keterangan dalam konfrensi pers BRI Super League 2025/2026 di SCTV Tower, Jakarta, Minggu (3/8/2025). (Bola.com/M Ichsan)
I.League menilai penguatan regulasi disiplin perlu menjadi perhatian serius menyusul munculnya sejumlah insiden yang berpotensi mengganggu keamanan kompetisi. Sanksi yang diterapkan diharapkan tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan mampu memberikan efek jera dan mencegah terulangnya pelanggaran serupa.
Ferry menyebut hukuman berupa denda atau sanksi lain yang dinilai kurang memberikan efek jera perlu dievaluasi. Karena itu, I.League siap berkoordinasi dengan PSSI untuk membahas kemungkinan penambahan jenis hukuman, termasuk pengurangan poin bagi klub apabila terjadi pelanggaran serius yang memenuhi ketentuan regulasi.
"Melihat perkembangan dan potensi konflik yang mulai muncul, kami berpandangan bahwa ketentuan hukuman perlu diperkuat. Sanksi tidak boleh hanya berhenti pada denda atau hukuman yang tidak memberikan efek jera. Kami siap berkoordinasi dengan PSSI untuk mendorong sanksi yang lebih berat, termasuk pengurangan poin bagi klub apabila terjadi pelanggaran serius sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Ferry.
Meski demikian, penerapan sanksi tetap harus mengacu pada regulasi yang berlaku disertai proses pembuktian yang sah. I.League juga menekankan pentingnya membedakan pelanggaran disiplin dalam penyelenggaraan pertandingan dengan tindakan kriminal di luar cakupan pertandingan.
Pelanggaran keamanan dan ketertiban di stadion maupun area yang masuk dalam cakupan regulasi pertandingan dapat diproses melalui mekanisme disiplin sepak bola. Dalam hal ini, tanggung jawab klub dan konsekuensi hukumannya ditentukan berdasarkan aturan yang berlaku.
Sementara itu, tindakan kriminal seperti penyerangan dan penganiayaan di luar cakupan penyelenggaraan pertandingan merupakan ranah penegakan hukum oleh kepolisian. Kemungkinan sanksi disiplin terhadap klub tetap harus memiliki dasar regulasi dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.