Jakarta — Kol goreng sering jadi pilihan pendamping nasi karena teksturnya yang renyah dan rasa gurihnya yang menggugah selera. Namun, siapa sangka cara pengolahan ini justru menghilangkan manfaat nutrisi yang ada dalam kol itu sendiri.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa proses penggorengan bersuhu tinggi secara signifikan merusak kandungan vitamin dalam kol. Selain itu, kol goreng juga menyerap banyak minyak jenuh yang tidak baik jika dikonsumsi berlebihan.
"Rasa gurih dan renyah dari kol goreng itu sebenarnya kombinasi lemak dan tekstur saja. Kalau mau tetap dapat rasa renyah, bisa dicari dari sayuran segar yang lebih kaya serat dan air," jelas dr Yaze kepada BeritaDuniaTerbaru.com, Jumat (16/10/2026).
Pilihan Sayuran Segar sebagai Pengganti
Sebagai pengganti kol goreng, dr Yaze menyarankan untuk mencari tekstur renyah secara alami dari sayuran segar. Timun misalnya, bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan sensasi "crunch" tanpa harus melalui proses penggorengan.
"Mungkin kalau mau cari tekstur renyah, bisa dari timun. Tapi kan makan timun bukan cuma dua iris," katanya.
Namun, bagi yang tidak bisa meninggalkan tekstur kol goreng yang cenderung lebih lunak dan sedikit manis, mengukus atau merebus sayuran sebentar bisa jadi solusi. Labu siam dan wortel adalah dua contoh sayuran yang cocok diolah dengan cara ini.
Bumbu Sederhana Tanpa Mengorbankan Serat
Untuk tetap mendapat cita rasa gurih tanpa harus menggoreng, menambahkan bumbu sederhana seperti garam dan lada pada sayuran kukus atau segar bisa jadi alternatif. Cara ini membantu mempertahankan sensasi bumbunya tanpa mengorbankan kandungan serat.
"Biasanya bisa dikasih garam sedikit atau dikasih lada supaya ada sensasi bumbunya. Tapi tetap seratnya harus lebih banyak," terang dr Yaze.
Dengan mengganti pilihan pendamping makan ke sayuran yang lebih kaya serat dan mengolahnya secara lebih sehat, tubuh tetap bisa mendapatkan nutrisi optimal tanpa risiko penumpukan lemak berlebih dari minyak goreng.