Jelajahi BDT NEWS

Strategi Kemendag Amankan Pasar Ekspor Baja Indonesia di Uni Eropa

Kemendag memperkuat strategi diplomasi dan negosiasi guna mengamankan akses pasar ekspor baja Indonesia di Uni Eropa dan Inggris.

liputan6.com (Sumber) via Liputan6 Bisnis • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 1 jam yang lalu
3 menit baca 0

BeritaDuniaTerbaru.com, Jakarta — Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus menggencarkan strategi untuk menjaga akses pasar ekspor baja nasional di kawasan Uni Eropa (UE) dan Inggris. Langkah diplomasi ini dianggap krusial di tengah pengetatan regulasi, penyesuaian tarif, serta pembatasan kuota impor yang diterapkan negara-negara mitra untuk melindungi industri dalam negerinya.

Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia Kemendag, Dina Kurniasari, menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional menjadi fondasi utama dalam merumuskan strategi ekspor. Penerapan mekanisme seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) hingga kuota ketat harus direspons melalui sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.

"Dalam beberapa tahun terakhir, negara mitra makin gencar menerapkan perlindungan industri domestik sebagai respons terhadap perubahan iklim dan kelebihan kapasitas produksi. Pemerintah terus mengutamakan diplomasi dan negosiasi dengan UE serta Inggris untuk memperjuangkan kepentingan ekspor Indonesia. Di sisi lain, industri dalam negeri perlu mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi berbagai kemungkinan perubahan kebijakan," tutur Dina dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).

Pemerintah optimistis produk baja rakitan dalam negeri mampu mempertahankan posisinya di pasar Eropa melalui pendekatan diplomasi yang agresif.

Dua Jalur Utama Diplomasi dan Optimalisasi Kuota Inggris

Seminar Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026

Seminar "Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris: Strategi Amankan Pasar Ekspor Indonesia" dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. (Dok Kemendag)

Atase Perdagangan RI di Jenewa, Swiss, Ghanna Wivanius, menyampaikan bahwa upaya pengamanan pasar ekspor ditempuh melalui dua jalur utama, yakni multilateral di World Trade Organization (WTO) dan negosiasi bilateral lewat Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA).

"Upaya perundingan ini harus berjalan seiring dengan penguatan daya saing industri dalam negeri dan diversifikasi ekspor ke pasar potensial lain seperti Timur Tengah, Asia Selatan, dan ASEAN," jelas Ghanna.

Sementara itu, Atase Perdagangan RI di London, Ayu Siti Maryam, menyoroti potensi pasar Inggris yang mencapai 7,02 miliar dolar AS pada 2025. Namun, eksportir Indonesia diimbau untuk memanfaatkan mekanisme kuota residual secara tepat waktu.

"Optimalisasi pemanfaatan kuota, penguatan diplomasi bilateral, serta peningkatan kepatuhan terhadap persyaratan pasar menjadi kunci penting menjaga daya saing ekspor baja Indonesia ke Inggris. Melalui koordinasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha, peluang pasar yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal," papar Ayu.

Dorong Kualitas Produk dan Respon Positif Pelaku Usaha

Seminar Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026

Seminar "Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris: Strategi Amankan Pasar Ekspor Indonesia" dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. (Dok Kemendag)

Dari sisi manufaktur lokal, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, menilai adaptasi standar mutu menjadi kunci kelangsungan bisnis baja di kancah global.

"Antisipasi terhadap perubahan tarif dan kuota perlu dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, pemahaman ketentuan pasar, serta perluasan tujuan ekspor. Langkah ini krusial agar industri baja nasional tidak hanya mampu mempertahankan pasar utama, tetapi juga responsif dalam menangkap peluang alternatif," terang Harry.

Langkah responsif pemerintah ini mendapat apresiasi dari pelaku industri. Muhammad Raim, salah satu peserta seminar, menilai pemetaan kebijakan global ini memberi kejelasan arah bagi dunia usaha.

"Materi yang disampaikan sangat jelas dan membuka wawasan kami tentang tantangan ekspor. Informasi ini membantu kami menentukan strategi industri di tengah persaingan pasar global," sebut Raim.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK