BeritaDuniaTerbaru.com, Kotawaringin Timur — Presiden Prabowo Subianto mengalokasikan dana bantuan sekitar Rp15 miliar untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Penyerahan dana tersebut dikonfirmasi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau langsung proses penanganan karhutla di wilayah itu, Sabtu (17/10) malam.
Menurut Raja Juli, Prabowo meminta agar dana bantuan itu dimanfaatkan secara optimal dalam upaya pemadaman. Pemerintah, kata dia, memaksimalkan upaya pemadaman melalui dua jalur utama.
"Kemarin Pak Presiden sudah menurunkan Banpres untuk Kotim, 15 miliar rupiah, mohon itu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kalau masih kurang tentu kami juga bisa support lagi secara parsial dimana yang kita butuhkan," kata Raja Juli dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10).
Dia menjelaskan, di udara pemerintah menggeberkan water bombing, dry ice, dan operasi modifikasi cuaca. Sementara di darat, pasukan Khusus akan diterjunkan untuk memastikan pemadaman berjalan efektif.
"Udara kita maksimalkan dengan water bombing, dry ice, dan operasi modifikasi cuaca, dan juga pasukan darat karena ini sangat penting sekali," sebutnya.
Peninjauan ini dilakukan setelah Raja Juli lebih dulu memimpin penanganan karhutla selama tiga hari di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, wilayah tetangga yang juga terdampak.
Di Kotawaringin Timur, karhutla tercatat terjadi di lahan gambut. Jenis lahan ini menuntut penanganan ekstra karena potensi api menyala kembali dari titik-titik yang telah dipadamkan.
Berbagai pihak terlibat langsung dalam operasi di lapangan. Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan bekerja bersama memadamkan api.
Raja Juli mengingatkan seluruh petugas untuk memastikan api benar-benar padam setelah proses pemadaman dilakukan. Pemantauan berkelanjutan juga diperlukan untuk mencegah munculnya kembali api di lahan yang telah terbakar.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih menyusul peningkatan hotspot di daerah-daerah tersebut.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Seluruh indikasi tetap harus diverifikasi di lapangan.