Jelajahi BDT NEWS

Benarkah Makanan Instan Bayi Bisa Picu Obesitas? Ini Faktanya

Makanan instan bayi tak selalu termasuk pangan ultra-proses atau UPF. Kenali komposisi, proses pengolahan, dan pola makan anak untuk mencegah obesitas.

cnnindonesia.com (Sumber) via CNN Gaya Hidup Kesehatan • Redaksi BDT News (Penerbit) Diperbarui 2 jam yang lalu
3 menit baca 0

Tangerang, BeritaDuniaTerbaru.com -- Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sering kali membuat orang tua bingung menentukan pilihan, antara membuat sendiri di rumah atau menggunakan produk instan yang praktis. Tak jarang muncul kekhawatiran bahwa makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) bisa meningkatkan risiko obesitas pada anak.

Lantas, apakah semua makanan instan bayi termasuk kategori UPF? Dan benarkah memberikannya bisa memicu obesitas?

Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Diana Sunardi, menegaskan agar orang tua tidak terburu-buru memberi label pada suatu produk pangan hanya berdasarkan bentuk atau cara penyajiannya. Proses pengolahan dan komposisi bahan perlu menjadi pertimbangan utama sebelum menentukan pilihan makanan untuk anak.

Dengan kata lain, tidak semua produk MPASI instan langsung masuk kategori pangan ultra-proses. Orang tua perlu mencermati bagaimana produk tersebut diproduksi serta bahan-bahan yang digunakan.

"Kalau memang sudah yakin itu UPF, jangan jadikan pilihan utama. Namun, tidak perlu juga sampai antipati. Kembali lagi, lihat proses pengolahan dan komposisinya," tutur Diana di Tangerang, Kamis (15/10).

Apakah Semua Makanan Instan Bayi Termasuk UPF?

Makanan instan sering dianggap kurang sehat dibanding makanan buatan rumah. Namun, menilai kualitas pangan hanya dari faktor instan atau rumahan sebenarnya tidak cukup.

Kategori pangan ultra-proses ditentukan berdasarkan tingkat serta jenis pengolahannya, termasuk karakteristik produk dan bahan yang dipakai. Oleh karena itu, tidak semua makanan yang dikemas atau diolah otomatis tergolong UPF.

Pengolahan pangan pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Proses tertentu justru membantu menjaga keamanan, memperpanjang masa simpan, dan membuat bahan pangan lebih mudah dikonsumsi.

Menurut Diana, orang tua perlu memahami komposisi produk sebelum memutuskan apakah makanan tersebut cocok untuk anak. Produk instan juga tidak seharusnya menjadi satu-satunya pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

Makanan yang dibuat di rumah bisa jadi alternatif untuk memberikan variasi bahan pangan dan menyesuaikan tekstur sesuai usia anak. Sementara itu, produk instan bisa digunakan ketika dibutuhkan, dengan tetap memperhatikan kandungan gizi, petunjuk penyajian, dan kesesuaiannya terhadap kebutuhan anak.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan makanan berkualitas gizi rendah sebagai pilihan utama secara terus-menerus, terutama jika hal itu membuat asupan anak menjadi kurang beragam.

Makanan Instan Bayi Bisa Memicu Obesitas?

Obesitas pada anak tidak bisa dijelaskan hanya dari satu jenis makanan. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, keseimbangan antara asupan energi dan aktivitas fisik, serta faktor biologis dan lingkungan.

Karenanya, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami obesitas akibat mengonsumsi makanan instan. Yang perlu diperiksa adalah kebiasaan makan anak secara menyeluruh, mulai dari jenis makanan yang dikonsumsi, porsi, frekuensi makan, hingga aktivitas hariannya.

Diana menjelaskan, pendekatan terhadap anak dengan berat badan berlebih perlu dimulai dengan mencari penyebab yang mendasarinya. Setelah itu, pola makan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan, penanganan berat badan juga perlu mempertimbangkan pertambahan tinggi badan dan perkembangan secara keseluruhan. Tujuannya bukan sekadar menurunkan angka pada timbangan, melainkan mendukung pertumbuhan yang sehat.

"Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan aktivitas fisik yang cukup dan mengonsumsi makanan dengan komposisi gizi seimbang," katanya.

Bagikan Facebook X WhatsApp Telegram LinkedIn VK